‹ Semua renungan

Selasa, 16 September 2031

Ayat di Kaca Belakang

Ayat itu ada di mana-mana. Tertempel di kaca belakang angkot, dicat di bak truk, digantung di dinding ruang tamu: Yohanes 3:16. Saking seringnya kita melihatnya, matanya lewat begitu saja. Ayat paling agung bisa bernasib seperti perabot rumah, ada tetapi tidak lagi dipandang.

Hari ini liturgi menyodorkannya kembali dan meminta kita membaca pelan-pelan. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Berhentilah di kata mengaruniakan. Allah tidak meminjamkan Anak-Nya. Ia memberikan-Nya, seperti Musa menaruh ular tembaga di tiang bagi bangsa yang sekarat di gurun. Dan tujuannya ditegaskan sekali lagi: bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.

Kasih sebesar itu menuntut jawaban senyata itu pula. Hari ini Gereja mengenang dua sahabat, Kornelius dan Siprianus. Yang satu uskup Roma, yang satu uskup Kartago, saling menguatkan lewat surat di tengah penganiayaan, dan keduanya mati sebagai martir. Bagi mereka, Yohanes 3:16 bukan hiasan kaca. Ia alasan untuk hidup dan berani mati.

Kapan terakhir kali aku membaca ayat itu dengan hati, bukan sekadar dengan mata?

Bapa, terima kasih untuk kasih yang begitu besar. Jangan biarkan hatiku menjadi kebal terhadapnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →