Rabu, 17 September 2031
Seruling dan Kidung Duka
Di sela-sela lapak pasar, anak-anak selalu menemukan cara bermain. Kadang main pengantin-pengantinan, kadang main layatan. Repotnya kalau ada teman yang sedang merajuk: diajak main apa pun, jawabannya tidak mau.
Yesus memakai gambar itu untuk angkatan-Nya. Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Yohanes Pembaptis datang berpuasa dan tidak minum anggur, mereka bilang ia kerasukan setan. Anak Manusia datang makan dan minum, mereka bilang Ia pelahap dan sahabat orang berdosa. Lagu apa pun yang dimainkan Allah, hati yang sudah memutuskan menolak selalu punya alasan. Terlalu keras. Terlalu lunak. Terlalu kuno. Terlalu baru.
Jangan-jangan kita pun begitu. Khotbah yang tegas kita sebut menghakimi, khotbah yang lembut kita sebut tidak berbobot. Nasihat teman kita anggap sok tahu, diamnya kita anggap tidak peduli. Bukan lagunya yang salah. Telinganya yang enggan.
Paulus menyebut jemaat sebagai keluarga Allah, tiang penopang kebenaran. Keluarga hanya bisa dibangun oleh orang-orang yang mau mendengar.
Lagu Allah yang mana yang sedang kutolak akhir-akhir ini dengan seribu satu alasan?
Tuhan, lembutkanlah telingaku, supaya aku menari ketika Engkau meniup seruling dan menangis ketika Engkau berkidung. Amin.