‹ Semua renungan

Minggu, 17 Agustus 2031

Mengheningkan Cipta

Setiap tanggal tujuh belas Agustus, di tengah upacara, ada satu saat yang paling sunyi. Pemimpin upacara memberi aba-aba, "Mengheningkan cipta, mulai." Lalu semua diam. Kepala menunduk. Untuk beberapa saat, sebuah bangsa berhenti bicara, mengenang mereka yang gugur supaya kita bisa berdiri di sini.

Hari ini kita merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan kali ini ia jatuh pada hari Minggu, hari Tuhan. Kita bersyukur untuk kemerdekaan bangsa ini, rahmat mahal yang ditebus dengan banyak darah dan air mata. Tetapi bacaan pertama hari ini mengajak kita memandang kemerdekaan dari sudut yang jarang kita sebut. Sudut orang-orang yang berduka dalam diam.

Nabi Yehezkiel diberi tugas yang berat. Tuhan memberitahunya bahwa istrinya, "yang sangat kaucintai," akan diambil. Dan ia diperintahkan untuk tidak meratap secara terbuka. "Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian." Duka yang dipendam, dukacita yang tidak boleh dipertontonkan, menjadi tanda bagi seluruh umat.

Ada sesuatu yang menyentuh di situ, terutama pada hari kemerdekaan. Sebab di balik setiap bangsa yang merdeka ada ribuan duka yang tak pernah diupacarakan. Istri yang kehilangan suami di medan perang dan harus tetap menyalakan dapur keesokan paginya. Ibu yang menguburkan anak muda dan menyimpan tangisnya sendirian. Kemerdekaan yang kita rayakan ramai-ramai hari ini berdiri di atas kesunyian yang tak terhitung banyaknya.

Karena itu saat mengheningkan cipta bukan basa-basi upacara. Ia pengakuan bahwa yang bersorak hari ini berutang pada yang berduka diam-diam kemarin. Kita menunduk sebentar untuk mengakui bahwa kebebasan ini bukan hasil kerja kita sendiri.

Injil hari ini menaruh pertanyaan yang cocok untuk direnungkan bangsa yang sudah lama merdeka. Seorang muda bertanya kepada Yesus, "Apa lagi yang masih kurang?" Ia sudah menjalankan semua perintah, sudah punya banyak, tetapi hatinya merasa ada yang belum penuh. Sebuah bangsa pun bisa mencapai banyak hal, membangun jalan dan gedung dan kemakmuran, dan tetap menyimpan pertanyaan yang sama. Apa lagi yang masih kurang?

Barangkali yang masih kurang selalu sama. Kesediaan melihat ke bawah, ke arah mereka yang berkorban dalam diam dan tak menuntut apa-apa. Kemerdekaan sejati bukan hanya soal berdiri tegak, melainkan juga soal ingat kepada siapa kita berutang untuk bisa berdiri. Pada hari yang meriah ini, sudahkah kita hening sejenak untuk mereka yang berduka supaya kita merdeka?

Tuhan, kami bersyukur atas kemerdekaan bangsa kami. Kami mengenang mereka yang berkorban dan berduka dalam diam. Jadikan kami bangsa yang tahu berterima kasih, dan hati yang merdeka untuk mengikut Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →