Minggu, 17 Agustus 2031
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia
Hari RayaBacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Bacaan Pertama Yehezkiel 24:15-24
Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: "Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata. Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian; lilitkanlah destarmu dan pakailah kasutmu, jangan tutupi mukamu dan jangan makan roti perkabungan." Pada paginya aku berbicara kepada bangsa itu dan pada malamnya isteriku mati. Pada pagi berikutnya aku melakukan seperti diperintahkan kepadaku. Maka bangsa itu berkata kepadaku: "Tidakkah engkau bersedia memberitahukan kepada kami, apa artinya ini bagi kami, bahwa engkau melakukan demikian?" Lalu kujawab mereka: "Firman TUHAN sudah datang kepadaku: Katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sesungguh-sungguhnya Aku akan menajiskan tempat kudus-Ku, kekuasaanmu yang kaubanggakan, kenikmatan bagi matamu dan bagi jiwamu; dan anak-anakmu lelaki dan perempuan yang kamu tinggalkan akan mati rebah oleh pedang. Kamu akan melakukan seperti yang kulakukan: Mukamu tidak akan kamu tutupi dan roti perkabungan tidak akan kamu makan, kepalamu pakai destar dan kakimu pakai kasut; dan kamu tidak akan meratap atau menangis. Tetapi kamu akan hancur lebur dalam hukumanmu, dan kamu akan mengeluh seorang kepada yang lain. Demikianlah Yehezkiel menjadi lambang bagimu; tepat seperti yang dilakukannya kamu akan lakukan. Kalau itu sudah terjadi maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan ALLAH.
Mazmur Tanggapan Ulangan 32:18-21
Bacaan Injil Matius 19:16-22
Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.
Renungan
Mengheningkan Cipta
Setiap tanggal tujuh belas Agustus, di tengah upacara, ada satu saat yang paling sunyi. Pemimpin upacara memberi aba-aba, "Mengheningkan cipta, mulai." Lalu semua diam. Kepala menunduk. Untuk beberapa saat, sebuah bangsa berhenti bicara, mengenang mereka yang gugur supaya kita bisa berdiri di sini.
Hari ini kita merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan kali ini ia jatuh pada hari Minggu, hari Tuhan. Kita bersyukur untuk kemerdekaan bangsa ini, rahmat mahal yang ditebus dengan banyak darah dan air mata. Tetapi bacaan pertama hari ini mengajak kita memandang kemerdekaan dari sudut yang jarang kita sebut. Sudut orang-orang yang berduka dalam diam.
Nabi Yehezkiel diberi tugas yang berat. Tuhan memberitahunya bahwa istrinya, "yang sangat kaucintai," akan diambil. Dan ia diperintahkan untuk tidak meratap secara terbuka. "Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian." Duka yang dipendam, dukacita yang tidak boleh dipertontonkan, menjadi tanda bagi seluruh umat.
Ada sesuatu yang menyentuh di situ, terutama pada hari kemerdekaan. Sebab di balik setiap bangsa yang merdeka ada ribuan duka yang tak pernah diupacarakan. Istri yang kehilangan suami di medan perang dan harus tetap menyalakan dapur keesokan paginya. Ibu yang menguburkan anak muda dan menyimpan tangisnya sendirian. Kemerdekaan yang kita rayakan ramai-ramai hari ini berdiri di atas kesunyian yang tak terhitung banyaknya.
Karena itu saat mengheningkan cipta bukan basa-basi upacara. Ia pengakuan bahwa yang bersorak hari ini berutang pada yang berduka diam-diam kemarin. Kita menunduk sebentar untuk mengakui bahwa kebebasan ini bukan hasil kerja kita sendiri.
Injil hari ini menaruh pertanyaan yang cocok untuk direnungkan bangsa yang sudah lama merdeka. Seorang muda bertanya kepada Yesus, "Apa lagi yang masih kurang?" Ia sudah menjalankan semua perintah, sudah punya banyak, tetapi hatinya merasa ada yang belum penuh. Sebuah bangsa pun bisa mencapai banyak hal, membangun jalan dan gedung dan kemakmuran, dan tetap menyimpan pertanyaan yang sama. Apa lagi yang masih kurang?
Barangkali yang masih kurang selalu sama. Kesediaan melihat ke bawah, ke arah mereka yang berkorban dalam diam dan tak menuntut apa-apa. Kemerdekaan sejati bukan hanya soal berdiri tegak, melainkan juga soal ingat kepada siapa kita berutang untuk bisa berdiri. Pada hari yang meriah ini, sudahkah kita hening sejenak untuk mereka yang berduka supaya kita merdeka?
Tuhan, kami bersyukur atas kemerdekaan bangsa kami. Kami mengenang mereka yang berkorban dan berduka dalam diam. Jadikan kami bangsa yang tahu berterima kasih, dan hati yang merdeka untuk mengikut Engkau. Amin.
Invitatorium
OFISI MOTIF KEMERDEKAAN INDONESIA PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah kita menyembah Tuhan yang sudah membebaskan kita.
Mazmur 94 (95)
Ant. Marilah kita menyembah Tuhan yang sudah membebaskan kita.
Ibadat Bacaan
Ibadat Bacaan untuk Hari Minggu dalam Masa Biasa
MADAH
1. Allah Bapa, pujian dan kemuliaan
PSALMODI
Ant. 1 Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Mazmur 145
Pujian akan keagungan Allah
Tuhan, Engkaulah Yang Adil, yang ada dan yang akan ada (Wahyu 16:5).
Ant. Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Ant. Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Ant. Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Ant. Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Ant. Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Ant. Hari demi hari aku akan memuji-Mu, Tuhan, alleluya.
Ant. 2 Kerajaan-Mu, Tuhan, adalah kerajaan yang kekal, alleluya.
Ant. Kerajaan-Mu, Tuhan, adalah kerajaan yang kekal, alleluya.
Ant. Kerajaan-Mu, Tuhan, adalah kerajaan yang kekal, alleluya.
Ant. 3 Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
Ant. Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
Ant. Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
Ant. Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
Ant. Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
Ant. Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
Ant. Tuhan setia dalam segala firman-Nya dan penuh kasih dalam segala perbuatan-Nya, alleluya.
BACAAN
BACAAN PERTAMA
RESPONSORIUM Hosea 11:8, 9; Yeremia 31:3
BACAAN KEDUA
RESPONSORIUM Mazmur 101:1-2
TE DEUM
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Aku diutus untuk mewartakan pembebasan kepada para tawanan dan untuk menyelamatkan orang yang tertindas.
Mazmur 62
Ant.1: Aku diutus untuk mewartakan pembebasan kepada para tawanan dan untuk menyelamatkan orang yang tertindas.
Ant.2: Tiada wadas seperti Allah kami. Busur para perkasa di remukkanNya, tetapi para lemah diberiNya kekuatan.
Dan 3,57-88.56
Tanpa 'Kemuliaan'.
Ant.2: Tiada wadas seperti Allah kami. Busur para perkasa di remukkanNya, tetapi para lemah diberiNya kekuatan.
Ant.3: Sungguh, negeri itu mengalirkan susu dan madu, alleluya.
Mazmur 149
Ant.3: Sungguh, negeri itu mengalirkan susu dan madu, alleluya.
Bacaan Singkat (Gal 5,13-15.26;6, 10)
Lagu Singkat
Ant.Kidung: Segala kuasa berasal dari Allah. Maka hendaklah tiap-tiap orang tunduk kepada atasannya, dan barang siapa menentang kuasa itu, ia menentang Allah.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Segala kuasa berasal dari Allah. Maka hendaklah tiap-tiap orang tunduk kepada atasannya, dan barang siapa menentang kuasa itu, ia menentang Allah.
Doa Permohonan
Doa Penutup
Ibadat Siang
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
OFISI MOTIF KEMERDEKAAN INDONESIA SIANG
Ant.1: Aku diutus untuk mewartakan pembebasan kepada para tawanan dan untuk menyelamatkan orang yang tertindas.
Mazmur 122 (123)
Ant.1: Aku diutus untuk mewartakan pembebasan kepada para tawanan dan untuk menyelamatkan orang yang tertindas.
Ant.2: Tiada wadas seperti Allah kami. Busur para perkasa di remukkanNya, tetapi para lemah diberiNya kekuatan.
Mazmur 123 (124)
Ant.2: Tiada wadas seperti Allah kami. Busur para perkasa di remukkanNya, tetapi para lemah diberiNya kekuatan.
Ant.3: Sungguh, negeri itu mengalirkan susu dan madu, alleluya.
Mazmur 124 (125)
Ant.3: Sungguh, negeri itu mengalirkan susu dan madu, alleluya.
Bacaan singkat (Rom 8,19.21.23)
Doa Penutup
Ibadat Sore
OFISI MOTIF KEMERDEKAAN INDONESIA SORE II
Madah
Ant.1: Aku memperhatikan kesengsaraan umatKu. Maka mereka Kaubebaskan dan Kuhantar ke tanah yang mengalirkan susu dan madu.
Mazmur 121 (122)
Ant.1: Aku memperhatikan kesengsaraan umatKu. Maka mereka Kaubebaskan dan Kuhantar ke tanah yang mengalirkan susu dan madu.
Ant.2: Lihatlah, kusediakan seluruh tanah ini bagimu. Paergilah dan milikilah sebagai tanah airmu.
Mazmur 126 (127)
Ant.2: Lihatlah, kusediakan seluruh tanah ini bagimu. Paergilah dan milikilah sebagai tanah airmu.
Ant.3: KerajaanKu adalah kerajaan abadi, dan kekuasaanKu bertahan turun temurun.
Ef 1,3-10
Ant.3: KerajaanKu adalah kerajaan abadi, dan kekuasaanKu bertahan turun temurun.
Bacaan Singkat (1Ptr 1,13-14.16-17)
Ant.Kidung: Kalau Putera membebaskan kamu, niscaya kamu sungguh bebas, sabda Tuhan.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Kalau Putera membebaskan kamu, niscaya kamu sungguh bebas, sabda Tuhan.
Doa Permohonan
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - MINGGU II
Doa Tobat
Madah
Ant: Tuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
Ant.: Tuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat (Why 22,4-5)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
Santo Hyasintus
Pengaku Iman
Hyasintus lahir tahun 1185 di Breslan, Silesia, Jerman Timur, dari keluarga bangsawan Odrowaz. Setelah menamatkan studinya, ia ditabhiskan menjadi imam. Karya imamatnya dimulai di Katedral Krakau, Polandia. Pada umur 35 tahun, bersama adiknya Seslaus, Hyasintus menemani uskupnya dalam perjalanan ke Roma.
Kesempatan itu dipakai untuk menemui Santo Dominikus, pendiri ordo Pengkhotbah. Semangat kerasulan dan kemiskinan para biarawan ordo itu sangat mereka kagumi. Pada pertemuan itu, Hyasintus meminta Dominikus agar mengutus beberapa biarawannya untuk mewartakan Injil di Eropa Utara. Permohonan ini tidak dikabulkan karena masalah kekurangan tenaga imam. Secara tak terduga, kedua bersaudara itu meminta Dominikus agar diterima dalam Ordo Pengkhotbah. Dengan senang hati Dominikus menerima kedua bersaudara itu dalam pengakuan ordonya.
Hyasintus bersama Seslaus, meskipun sudah lama bekerja sebagai imam, bersedia menjalani lagi masa novisiat untuk melatih diri dan membentuk diri mengikuti semangat Ordo Pengkhotbah dan semua keutamaan Kristen yang diperjuangkan ordo itu. Setelah mereka mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan, Hyasintus dan Seslaus diutus ke Eropa Utara sebagai misionaris Dominikan pertama di wilayah itu.
Sebagai perintis Ordo Pengkhotbah di Eropa Utara, kedua bersaudara itu mengalami banyak hambatan dalam karyanya. Namun Tuhan senantiasa menyertai mereka dengan banyak karunia mukzijat. Mula-mula Hyasintus menjelajahi seluruh wilayah Polandia untuk mewartakan Injil. Ia berhasil mentobatkan banyak orang di semua kota. Selanjutnya ia berkotbah di wilayah-wilayah Jerman, Denmark, Swedia, Austria, dan Rusia sampai ke Laut Hitam. Kehidupannya yang sederhana dan suci menjadi pendukung kuat bagi khotbah-khotbahnya dan hal ini berhasil menarik minat banyak pemuda.
Pemuda-pemuda dengan rela meneladani Hyasintus dibina untuk menjadi imam-imam Dominikan. Untuk itu Hyasintus mendirikan banyak biara Dominikan di berbagai tempat sebagai pusat pendidikan bagi semua muda yang mau menjadi imam dalam Ordo Dominikan.
Dikatakan bahwa Hyasintus sepanjang hidupnya (72 tahun) tidak pernah mengalami sakit, termasuk penyakit ketuaan dan semua penderitaan lain yang disebabkan oleh usia yang sudah lanjut. Ia akhirnya gugur sebagai seorang ksatria Kristus yang memberi kesaksian iman secara luar biasa. Pada tanggal 14 Agustus 1257, ia jatuh sakit dan meninggal pada tanggal 15 Agustus 1257, tepat pada pesta Maria diangkat ke Surga.