Selasa, 5 Agustus 2031
Ketika Angin Terasa
Kemarin lima roti dibagi sampai lima ribu orang kenyang. Hari ini para murid yang sama sudah kembali ke tengah danau, dilempar ombak, digempur angin sakal. Baru saja menyaksikan mukjizat, sekarang ketakutan lagi. Begitulah iman kita sering berjalan. Kenyang sebentar, lalu goyah lagi.
Yesus datang berjalan di atas air. Petrus, yang selalu paling berani, minta izin datang menyongsong. Dan ia benar-benar turun dari perahu, berjalan di atas air. Selama matanya menatap Yesus, air yang tak masuk akal itu menahannya.
Lalu ada satu kalimat kecil yang menjelaskan segalanya. "Ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam." Petrus tidak tenggelam karena badainya bertambah besar. Badai itu sudah ada sejak tadi. Ia tenggelam ketika perhatiannya pindah, dari wajah Yesus ke angin di sekitarnya.
Betapa sering kita begitu. Selama menatap Tuhan, kita sanggup melangkah di atas hal-hal yang mestinya menenggelamkan. Begitu kita mulai menghitung angin, mengukur ombak, membayangkan yang terburuk, kita mulai turun.
Yang menghibur, Petrus sempat berseru, "Tuhan, tolonglah aku!" Dan tangan Yesus segera terulur. Bahkan doa yang paling pendek, yang keluar dari mulut orang yang sedang tenggelam, sudah cukup untuk ditangkap. Angin apa yang sedang kaurasakan hari ini, yang membuatmu lupa menatap wajah-Nya?
Tuhan, ketika aku mulai menghitung angin dan tenggelam, ulurkan tangan-Mu. Dan ajari aku menatap wajah-Mu lebih lama dari ombak yang kutakuti. Amin.