Rabu, 6 Agustus 2031
Satu Perintah dari Awan
Kita hidup dikepung banyak suara. Di kepala saja sudah ramai, apalagi di luar. Setiap suara menuntut didengarkan, dan kita bingung mana yang harus diikuti.
Di atas gunung yang tinggi, tiga murid melihat Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Musa dan Elia menampakkan diri. Petrus, seperti biasa, langsung ingin berbuat sesuatu, mendirikan tiga kemah. Tetapi dari awan yang terang terdengar suara, dan suara itu tidak memberi banyak perintah. Hanya satu. "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Di tengah semua yang terjadi, di antara nabi-nabi besar dan cahaya yang menyilaukan, yang diminta dari para murid cuma satu kata kerja. Dengarkan. Bukan bangun ini, bukan bicara itu. Diam dan dengarkan Dia.
Mendengar suara itu, murid-murid tersungkur ketakutan. Lalu Yesus melakukan sesuatu yang lembut. Ia mendekat, menyentuh mereka, dan berkata, "Berdirilah, jangan takut!" Suara dari surga membuat mereka jatuh. Sentuhan tangan Yesus membuat mereka bangkit. Allah yang mahamulia itu ternyata cukup dekat untuk menyentuh dengan tangan-Nya.
Barangkali yang paling sulit dari iman bukan berbuat banyak, melainkan mau diam dan mendengar. Kita gampang sibuk untuk Tuhan, seperti Petrus dengan kemah-kemahnya. Lebih jarang kita benar-benar berhenti untuk mendengarkan Dia. Di antara sekian suara hari ini, sudahkah suara-Nya kuberi tempat?
Tuhan, di tengah keramaian yang menuntut perhatianku, ajari aku diam. Sentuh aku ketika aku jatuh, dan bangkitkan aku untuk mendengarkan Engkau. Amin.