‹ Semua renungan

Kamis, 7 Agustus 2031

Batu Pijakan, Batu Sandungan

Dalam satu percakapan pendek, Petrus disebut dua hal yang bertolak belakang. Mula-mula ia dipuji sebagai batu karang tempat Gereja akan dibangun. Beberapa kalimat kemudian ia ditegur, "Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku." Batu yang sama, dua fungsi yang jauh berbeda.

Petrus tidak berubah orang di antara dua kalimat itu. Yang berbeda adalah dari mana ia berpikir. Ketika ia mengaku, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup," itu datang dari Bapa. Ketika ia menolak jalan salib, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu," itu datang dari cara pikir manusia.

Petrus benar soal siapa Yesus, tetapi salah soal apa artinya. Ia mau Mesias, tetapi tanpa salib. Mau Guru yang menang, tetapi tidak yang menderita. Godaan itu halus, sebab kelihatannya justru sayang kepada Yesus.

Kita pun begitu. Iman kita bisa jadi pijakan yang kokoh bagi orang lain, bisa juga jadi batu yang membuat orang tersandung, tergantung apakah kita sedang memikirkan yang dipikirkan Allah atau yang dipikirkan manusia. Sering bukan soal salah atau benarnya keyakinan, melainkan dari mana ia lahir.

Hari ini pantas kita bertanya pelan-pelan. Dalam nasihat yang kuberikan, dalam sikap yang kuambil, aku sedang jadi pijakan yang menopang, atau batu yang membuat orang jatuh?

Tuhan, jadikan aku batu pijakan bagi sesama, bukan batu sandungan. Selaraskan pikiranku dengan pikiran-Mu, terutama ketika itu berarti menerima salib. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →