Senin, 4 Agustus 2031
Lima Roti di Tangan yang Mau
Ada beban yang terasa mustahil ketika dipikul sendirian, dan berubah ringan begitu ada tangan lain ikut memegang. Musa mengalami sisi beratnya. Seluruh bangsa menangis minta daging, dan ia merasa dijepit sampai berkata kepada Tuhan, "Sebaiknya Engkau membunuh aku saja." Ia merasa harus mengenyangkan semua orang seorang diri, dan itu menghancurkannya.
Di bukit dekat danau, murid-murid Yesus nyaris berkata hal yang sama. Lima ribu orang lapar, hari sudah petang. Jalan keluar mereka masuk akal, "Suruhlah orang banyak pergi membeli makanan." Serahkan urusan ini kepada masing-masing. Tetapi Yesus menjawab dengan kalimat yang mengejutkan, "Kamu harus memberi mereka makan."
Yang ada di tangan mereka hanya lima roti dan dua ikan. Terlalu sedikit untuk lautan orang itu. Namun ketika yang sedikit itu diletakkan di tangan Yesus, lalu dibagikan lewat tangan murid-murid, semua kenyang dan masih sisa dua belas bakul.
Perbedaannya bukan pada jumlah roti, melainkan pada siapa yang memikul. Musa mengira harus menanggung sendiri. Murid-murid diajak menjadi tangan yang membagi, bukan sumber yang menyediakan. Yang menyediakan tetap Tuhan.
Santo Yohanes Maria Vianney menghabiskan hidupnya di sebuah paroki kecil, membagi roti rohani jam demi jam di kamar pengakuan. Ia tak pernah merasa punya cukup. Tetapi ia terus meletakkan yang sedikit itu di tangan Tuhan. Apa yang sedikit padaku hari ini, yang kalau kutahan terasa mustahil, tetapi kalau kuserahkan bisa mengenyangkan orang lain?
Tuhan, ambillah yang sedikit ada padaku. Jadikan tanganku tangan yang membagi, dan biarkan Engkau yang mencukupkan. Amin.