Minggu, 3 Agustus 2031
Pelita untuk Malam yang Belum Datang
Ada terang yang diberikan bukan untuk saat ini, melainkan untuk gelap yang belum datang. Seperti lampu badai yang kita isi minyaknya siang hari, ketika matahari masih terang, supaya nanti malam kita tidak meraba-raba.
Hari ini kita merayakan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung. Wajah-Nya berubah, pakaian-Nya putih berkilau, Musa dan Elia berdiri di samping-Nya. Tetapi Lukas menyimpan satu keterangan yang mudah terlewat. Petrus dan teman-temannya "telah tertidur," dan baru ketika terbangun mereka melihat kemuliaan itu. Nyaris saja mereka mendengkur melewati salah satu momen paling terang dalam hidup mereka.
Keterangan kedua lebih penting lagi. Musa dan Elia berbicara dengan Yesus "tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem." Di puncak yang begitu terang, yang dibicarakan justru salib. Kemuliaan itu bukan tempat berhenti. Ia bekal untuk perjalanan turun, menuju penderitaan.
Petrus tidak paham. Ia ingin mendirikan tiga kemah, membekukan saat indah itu supaya tak usah turun lagi. Kita mengerti keinginannya. Siapa yang mau meninggalkan puncak untuk kembali ke lembah? Tetapi tak ada kemah yang dibangun. Awan datang, suara terdengar, dan tinggallah Yesus seorang diri.
Bertahun kemudian Petrus baru mengerti. Dalam suratnya ia menulis bahwa ia bukan mengikuti dongeng isapan jempol, sebab ia saksi mata kebesaran itu di gunung yang kudus. Lalu ia menambahkan gambar yang indah. Firman para nabi itu "seperti pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit."
Di situ terkumpul semuanya. Peristiwa di gunung adalah pelita yang dinyalakan untuk sebuah malam yang belum datang. Ketika salib akhirnya tiba dan segalanya gelap, para murid punya satu ingatan terang yang bisa dipegang. Mereka pernah melihat siapa Dia sebenarnya.
Daniel jauh sebelumnya sudah melihat bayangannya. Seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan, menerima kekuasaan yang tidak akan lenyap. Yang di atas gunung itu bukan sekadar guru yang baik. Ia Raja yang kerajaan-Nya kekal, yang berjalan menuju salib dengan mata terbuka.
Kita pun diberi saat-saat terang. Doa yang terasa dekat, Ekaristi yang menyentuh, malam ketika iman terasa nyata. Saat-saat itu bukan untuk dibekukan jadi kemah, melainkan disimpan sebagai pelita. Sebab akan ada lembah, dan kita akan membutuhkan terang yang pernah kita lihat. Sudahkah kita mengisi pelita itu selagi hari masih terang?
Tuhan, pada saat-saat Engkau menyatakan diri, tolong aku menyimpannya baik-baik. Supaya ketika malam datang, aku ingat wajah-Mu dan tidak tersesat dalam gelap. Amin.