Minggu, 2 Februari 2031
Lilin di Tangan Simeon
Waktu listrik padam, sebatang lilin kecil mengubah segalanya. Nyalanya tidak seberapa, goyah ditiup angin. Tetapi seisi rumah berkumpul mengelilinginya, dan gelap yang tadinya menakutkan berubah hangat. Aneh, bukan? Gelap sepekat apa pun tidak pernah sanggup memadamkan satu nyala kecil.
Pesta hari ini sejak dahulu disebut pesta lilin. Di banyak gereja, lilin diberkati dan diarak, sebab hari ini Terang itu sendiri masuk ke kenisah. Tahun ini pestanya jatuh tepat pada hari Minggu, sehingga seluruh umat merayakannya bersama. Empat puluh hari setelah Natal, Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Tuhan, dengan kurban orang sederhana: sepasang burung tekukur.
Maleakhi pernah bernubuat: dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya. Orang tentu membayangkan kedatangan yang gempar, dengan api pemurni dan sabun penatu. Yang terjadi justru sunyi. Seorang bayi digendong masuk, dan hampir tidak ada yang menoleh. Para imam sibuk. Peziarah lalu-lalang. Tuhan masuk ke rumah-Nya sendiri, dan rumah itu tidak mengenali-Nya.
Kecuali dua orang tua. Simeon, yang menantikan penghiburan bagi Israel entah sejak kapan. Dan Hana, delapan puluh empat tahun, yang siang malam berpuasa dan berdoa di bait Allah. Mata yang terlatih menanti akhirnya melihat apa yang dilewatkan mata yang tergesa. Iman memang lebih sering berupa kesetiaan yang panjang dan sepi daripada peristiwa yang gemuruh.
Simeon menatang bayi itu dan berkata tenang: sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu. Surat Ibrani menjelaskan ketenangan itu. Yesus menjadi sama dengan kita justru untuk membebaskan mereka yang seumur hidup diperhamba oleh ketakutan akan maut. Orang yang sudah memegang Terang tidak lagi gentar pada gelap, bahkan gelap kematian.
Ada satu hal lagi dari lilin yang layak direnungkan: ia menerangi dengan menghabiskan dirinya. Penyerahan Yesus di kenisah hari ini adalah awal dari persembahan yang tuntas di salib. Dan setiap kita yang dibaptis pernah menerima lilin bernyala. Hidup kita pun dimaksudkan menjadi terang yang rela meleleh.
Hari ini, di tengah kenisah zaman kita masing-masing, masihkah kita menanti-nantikan Tuhan seperti Simeon dan Hana, atau kita sekadar lalu-lalang di rumah-Nya?
Tuhan Yesus, Terang para bangsa, taruhlah diri-Mu di tanganku seperti di tangan Simeon, dan jadikanlah hidupku lilin yang rela meleleh bagi-Mu. Amin.