Minggu, 5 Januari 2031
Rahasia yang Terbuka
Kata Epifani datang dari bahasa Yunani, epiphaneia. Artinya penampakan, sesuatu yang tadinya tersembunyi kini muncul ke permukaan. Hari ini bukan sekadar pesta bintang dan tiga tamu dari Timur. Hari ini adalah pesta sebuah rahasia yang akhirnya dibuka.
Paulus menyebutnya terang-terangan. Ada rahasia yang 'pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan,' katanya, tetapi sekarang dinyatakan. Isi rahasia itu mengejutkan, 'bahwa orang-orang bukan Yahudi turut menjadi ahli waris.' Selama ribuan tahun orang mengira keselamatan itu urusan satu bangsa saja. Ternyata pintunya jauh lebih lebar.
Lihatlah siapa yang datang menyembah bayi itu. Bukan imam-imam Yerusalem yang hafal Kitab Suci. Justru orang asing, dari negeri jauh, yang bahkan tidak menyembah dengan cara yang benar. Mereka membaca bintang, bukan Taurat. Namun merekalah yang berlutut.
Ada yang ganjil di sini. Herodes dan seluruh Yerusalem terkejut mendengar kabar itu, bahkan gemetar. Sementara orang-orang jauh justru bersukacita. Yang di dekat pusat malah terusik. Yang dari pinggir malah datang. Kabar baik memang selalu menguji, menggusarkan orang yang merasa sudah memiliki, menggembirakan orang yang merasa tak punya apa-apa.
Yesaya sudah melihatnya dari jauh. 'Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu.' Terang itu tidak dipagari. Ia terbit untuk semua yang mau mengangkat wajah.
Perhatikan pula persembahan yang mereka bawa, emas, kemenyan, dan mur. Itu bukan hasil bumi Israel, melainkan kekayaan bangsa-bangsa lain, benda-benda dari negeri asing. Yesaya sudah menyebutnya, kekayaan bangsa-bangsa akan datang. Ternyata Allah tidak menampik apa yang berasal dari luar. Ia menerima emas orang asing, memakai bintang yang dibaca orang asing, menyambut kaki yang menempuh jalan asing. Tidak ada kebaikan, dari mana pun asalnya, yang terlalu asing untuk dipersembahkan kepada-Nya.
Epifani mengingatkan bahwa tidak ada orang yang terlalu asing, terlalu jauh, atau terlalu salah untuk datang. Kalau para pembaca bintang dari Timur saja diberi tempat di depan palungan, maka kita pun punya tempat. Yang jauh ternyata malah lebih dulu tiba, dan pintu itu tetap terbuka lebar sampai hari ini.
Barangkali pertanyaannya bukan apakah aku layak masuk, melainkan adakah aku, seperti Herodes, diam-diam ingin menutup pintu yang justru dibuka Allah lebar-lebar? Adakah orang yang kuanggap terlalu jauh untuk pantas menerima kabar baik?
Tuhan, Engkau membuka rahasia-Mu bagi orang jauh. Jangan biarkan hatiku menyempit ketika kasih-Mu melebar. Amin.