‹ Semua renungan

Rabu, 25 Desember 2030

Surat yang Menjadi Manusia

Selamat Natal. Hari ini kita merayakan bahwa Allah, akhirnya, berbicara sampai tuntas.

Bayangkan seseorang yang bertahun-tahun hanya kita kenal lewat surat. Kabarnya sampai sepotong-sepotong. Satu pucuk hari ini, satu pucuk tahun depan. Kita menyimpan surat-surat itu, membacanya berulang, mencoba menyusun wajahnya dari tulisan tangannya. Tetapi surat, betapapun hangatnya, tetap bukan orangnya. Sampai suatu hari ia mengetuk pintu dan berdiri di sana, hadir sepenuhnya. Tidak ada surat yang bisa menyamai itu.

Surat kepada orang Ibrani membuka dengan gambar itu. Dahulu, katanya, Allah berulang kali dan dengan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi. Berulang kali, dan dengan pelbagai cara. Artinya sepotong-sepotong, sedikit demi sedikit, seperti kiriman surat yang tidak pernah lengkap dalam satu kali baca. Musa membawa sepenggal, Yesaya sepenggal, Amos sepenggal. Masing-masing benar, tetapi belum utuh.

Lalu datang kalimat yang mengubah segalanya. "Pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya." Bukan lagi lewat perantara. Bukan lagi lewat surat yang dititipkan. Kali ini Allah berbicara dengan cara yang paling utuh yang mungkin: Ia mengirim diri-Nya sendiri. Firman itu menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Inilah yang membuat Natal berbeda dari sekadar ulang tahun. Kita tidak merayakan sebuah ajaran baru, sebuah surat yang lebih bagus. Kita merayakan bahwa Yang Tak Terhampiri kini bisa dipeluk. Yang menopang seluruh alam semesta dengan firman-Nya, kata surat Ibrani, kini terbaring di palungan sebagai bayi yang menggigil. Sungguh, siapa yang sanggup membayangkan jarak sejauh itu ditempuh dalam satu malam?

Rasul Yohanes berkata, kita telah melihat kemuliaan-Nya. Melihat. Bukan lagi menebak dari surat, melainkan menatap dengan mata sendiri. Dan yang mereka lihat bukan raja dengan segala kilaunya, melainkan seorang bayi dalam kesederhanaan yang hampir tidak masuk akal. Di situlah kemuliaan Allah menampakkan diri: bukan dalam kemegahan yang menjauhkan, melainkan dalam kedekatan yang merangkul.

Maka Natal sebenarnya sebuah undangan sederhana. Allah sudah datang sepenuhnya kepada kita. Tinggal satu pertanyaan yang tersisa untuk kita jawab hari ini: apakah kita akan tetap sibuk dengan surat-surat, atau membuka pintu bagi Sang Empunya surat yang kini berdiri di ambang?

Ya Yesus, Firman yang menjadi manusia, terima kasih Engkau datang sendiri, bukan sekadar mengirim kabar. Kubuka pintu hatiku, masuklah dan tinggallah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →