‹ Semua renungan

Kamis, 26 Desember 2030

Saksi yang Pertama

Baru kemarin kita menyanyikan malam kudus di sekitar palungan. Hari ini, tepat sehari sesudah Natal, Gereja menaruh di hadapan kita kisah orang yang dilempari batu sampai mati. Warna liturgi berganti dari putih sukacita menjadi merah darah. Rasanya seperti dibangunkan terlalu cepat dari mimpi indah.

Tetapi penempatan ini bukan kebetulan. Gereja seakan ingin mengingatkan, bayi di palungan itu lahir bukan untuk menjadi hiasan yang manis. Ia lahir untuk sebuah dunia yang keras, yang kelak menolak-Nya, dan yang juga akan menolak para pengikut-Nya.

Stefanus adalah martir pertama. Kata martir sendiri dalam bahasa Yunani berarti saksi. Dan kesaksian Stefanus yang paling mengharukan bukan khotbahnya yang panjang, melainkan kalimat terakhirnya. Sambil dilempari batu, ia berlutut dan berseru, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." Nyaris sama persis dengan doa Yesus di kayu salib. Sang saksi menirukan Sang Guru sampai ke kata-kata terakhirnya.

Inilah bukti bahwa Natal sudah bekerja. Allah yang menjadi manusia menanamkan dalam diri manusia kesanggupan mengampuni yang tidak wajar. Mengampuni justru saat batu berjatuhan.

Kita mungkin tidak akan dilempari batu. Tetapi selalu ada batu-batu kecil setiap hari: kata yang menyakitkan, perlakuan yang tidak adil. Sanggupkah kita, seperti Stefanus, menjawabnya dengan pengampunan?

Tuhan, tanamkan dalam hatiku hati Stefanus, yang mengampuni bahkan di bawah lemparan batu. Jadikan aku saksi-Mu, bukan hanya dengan kata, melainkan dengan mengampuni. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →