‹ Semua renungan

Jumat, 27 Desember 2030

Yang Kami Raba

Ada perbedaan besar antara mendengar cerita tentang seseorang dan menjabat tangannya sendiri. Cerita bisa keliru, bisa dibumbui, bisa hanya kabar angin. Tetapi genggaman tangan tidak bisa dibantah. Ada kehangatan yang nyata, ada tekanan yang terasa. Itu bukan lagi kabar, itu perjumpaan.

Rasul Yohanes membuka suratnya dengan menekankan hal itu berulang-ulang. "Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami." Dengar, lihat, raba. Ia menumpuk kata kerja indra seakan takut kita mengira imannya hanya gagasan di kepala.

Yang ia raba, katanya, adalah Firman hidup. Inilah kelanjutan Natal. Allah tidak menjadi manusia setengah-setengah, samar seperti bayangan. Ia sungguh berdaging, sungguh bisa disentuh. Yohanes pernah menyandarkan kepalanya di dada Yesus. Ia tahu betul, Tuhan yang ia beritakan bukan dongeng.

Maka ketika pagi Paskah ia berlari ke kubur yang kosong dan melihat, ia percaya. Iman Yohanes selalu berpijak pada apa yang nyata dijumpai, bukan pada khayalan.

Kita memang tidak bisa meraba Yesus dengan jari seperti Yohanes. Tetapi kita menjumpai-Nya secara nyata juga, dalam roti Ekaristi, dalam sesama yang menderita, dalam sabda yang menyapa. Iman kita bukan gagasan yang melayang. Sudahkah kita sungguh berjumpa dengan-Nya, bukan sekadar mendengar tentang-Nya?

Tuhan, Firman yang bisa diraba, biarlah aku tidak hanya mendengar tentang-Mu, melainkan sungguh berjumpa dengan-Mu hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →