‹ Semua renungan

Sabtu, 28 Desember 2030

Tangis di Rama

Masih dalam suasana Natal, Injil hari ini gelap. Herodes, yang merasa terancam oleh seorang bayi, memerintahkan pembunuhan semua anak di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Terdengarlah, kata nabi, suara ratapan di Rama. Rahel menangisi anak-anaknya dan tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.

Tidak semua bagian dari kisah Natal manis. Ada air mata ibu-ibu yang kehilangan bayinya. Ada Keluarga Kudus yang harus lari tengah malam menyelamatkan diri ke Mesir, menjadi pengungsi di negeri asing. Sang Juruselamat memulai hidup-Nya sebagai bayi yang diburu, dalam keluarga yang terpaksa mengungsi.

Kisah ini terasa dekat dengan zaman kita. Masih ada anak-anak yang menjadi korban kekuasaan orang dewasa. Masih ada keluarga yang lari malam-malam meninggalkan rumah demi selamat. Rahel masih menangis di banyak tempat sampai hari ini.

Kemarin Rasul Yohanes berkata bahwa yang ia beritakan mendatangkan sukacita yang sempurna. Hari ini ia melanjutkan, Allah adalah terang dan di dalam Dia tidak ada kegelapan. Iman tidak menutup mata pada tangis dunia. Iman justru memandangnya sambil tetap percaya bahwa Allah adalah terang, meski malam terasa panjang.

Di hadapan penderitaan anak-anak tak berdosa, adakah kita hanya menonton, atau ikut menjadi penghibur bagi Rahel-Rahel di sekitar kita?

Tuhan, kasihanilah anak-anak yang menderita dan keluarga yang terusir. Jadikan aku penghibur bagi yang menangis, dan terang kecil di tengah malam dunia. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →