Minggu, 29 Desember 2030
Kudus di Dapur
Sesudah pesta Natal, hari Minggu ini mengajak kita menengok ke sebuah rumah tangga yang sangat biasa. Gereja merayakan Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yusuf. Dan yang menarik, kekudusan keluarga ini justru tumbuh di tempat yang paling tidak istimewa, di rumah seorang tukang kayu di kampung kecil bernama Nazaret.
Kita mudah membayangkan kekudusan sebagai sesuatu yang terjadi di gereja, di altar, dalam doa yang khusyuk. Tetapi Keluarga Kudus mengajarkan hal lain. Sebagian besar hidup Yesus, hampir tiga puluh tahun, dihabiskan bukan dalam mukjizat besar, melainkan dalam kesibukan rumah tangga biasa. Menyerut kayu bersama Yusuf. Menanti makan di dapur bersama Maria. Menjalani hari demi hari yang tidak tercatat dalam Injil.
Betapa menghiburnya itu. Tuhan menguduskan justru hal-hal yang kita anggap remeh. Mengasuh anak, mencuci piring, menunggu suami pulang, menegur dengan sabar, memaafkan untuk kesekian kali. Kekudusan tidak selalu berupa peristiwa besar. Sering ia berupa kesetiaan kecil yang diulang setiap hari di dalam rumah.
Keluarga Nazaret juga bukan keluarga tanpa masalah. Mereka pernah miskin, pernah mengungsi ke negeri asing, pernah cemas kehilangan Anak selama tiga hari. Yang membuat mereka kudus bukan karena bebas dari kesulitan, melainkan karena di tengah semua itu mereka tetap saling menjaga dan tetap taat kepada kehendak Allah.
Orang Jawa punya ungkapan tentang keluarga, mangan ora mangan waton kumpul, makan tidak makan asalkan berkumpul. Ada kebijaksanaan tua di situ. Yang membuat sebuah rumah menjadi rumah bukan kemewahannya, melainkan kebersamaannya. Yang membuat keluarga menjadi kudus bukan kesempurnaannya, melainkan kehadiran Allah di tengahnya.
Menariknya, Injil hampir tidak bercerita apa-apa tentang tiga puluh tahun itu. Tidak ada catatan tentang sarapan mereka, tentang cemas soal biaya, tentang malam-malam biasa di Nazaret. Justru diamnya Injil itu seakan berkata sesuatu. Di sanalah letak kekudusan yang sesungguhnya, di hari-hari yang tak layak diberitakan, yang dijalani dengan setia oleh keluarga mana pun juga.
Barangkali hari ini undangannya sederhana. Kita tidak perlu pergi jauh mencari kekudusan. Ia bisa dimulai dari meja makan kita sendiri, dari cara kita bersabar terhadap orang serumah, dari doa singkat yang kembali kita hidupkan bersama. Sudahkah rumah kita menjadi Nazaret kecil, tempat Tuhan boleh tinggal?
Tuhan, tinggallah di rumah kami seperti dahulu Engkau tinggal di Nazaret. Kuduskanlah hal-hal kecil kami sehari-hari, dan ajarilah kami saling menjaga dalam kasih. Amin.