‹ Semua renungan

Senin, 30 Desember 2030

Menjadi Anak

Natal belum usai. Gereja merayakannya delapan hari penuh, sebuah oktaf, seakan satu hari tidak cukup menampung sukacitanya. Maka hari ini kita kembali kepada bacaan Natal, tetapi mari kita berhenti pada satu ayat yang mudah terlewat di tengah keramaian.

Rasul Yohanes menulis, "Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah." Inilah buah Natal yang paling menakjubkan. Allah menjadi manusia, supaya manusia boleh menjadi anak Allah. Ia turun ke rumah kita, supaya kita diangkat ke rumah-Nya.

Pikirkan tentang seorang anak yang diangkat ke dalam sebuah keluarga. Ia tidak lahir dari keluarga itu. Ia tidak punya hak apa pun atas nama itu. Tetapi pada suatu hari, semata karena kasih dan pilihan, ia diberi nama keluarga yang baru, tempat tidur yang baru, warisan yang baru. Bukan karena ia membelinya, melainkan karena ia diterima. Yohanes berkata, kita menjadi anak Allah bukan dari darah atau dari keinginan manusia, melainkan dari Allah sendiri.

Dan Yohanes menambahkan kalimat yang indah, "Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia." Kasih karunia demi kasih karunia. Seperti ombak yang datang bergulung-gulung, satu menyusul yang lain, tidak pernah putus. Belum kering yang satu, sudah datang yang berikut. Begitulah cara Allah memberi kepada anak-anak-Nya.

Kadang kita hidup seolah masih menjadi hamba yang takut, yang menghitung-hitung apakah kita cukup baik untuk diterima. Padahal Natal sudah mengubah status kita. Kita bukan lagi orang luar yang mengintip dari jendela. Kita anak yang dipersilakan masuk dan duduk di meja.

Perhatikan betapa berbeda dua kata itu: hamba dan anak. Seorang hamba melayani karena takut kehilangan tempat. Ia menghitung jasa, cemas kalau kurang, dan tidak pernah sungguh merasa di rumah. Seorang anak melayani karena kasih. Ia tahu tempatnya tidak bisa hilang, sebab bukan upah yang mengikatnya, melainkan nama dan ikatan darah. Natal memindahkan kita dari yang pertama ke yang kedua.

Menjelang tahun berganti, barangkali baik kita mengingat kembali siapa kita sesungguhnya di mata Allah. Bukan orang asing. Bukan sekadar hamba. Melainkan anak yang dikasihi. Sudahkah kita hidup sebagai anak, atau masih seperti orang upahan yang cemas?

Bapa, terima kasih Engkau mengangkat aku menjadi anak-Mu. Ajarilah aku hidup bukan dengan takut seorang hamba, melainkan dengan percaya seorang anak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →