Selasa, 24 Desember 2030
Melonjak Kegirangan
Hari ini Malam Natal. Rumah-rumah sibuk sejak pagi. Ada yang membersihkan lantai, ada yang memasak, ada yang berkali-kali menengok ke jalan, menanti tamu yang sebentar lagi tiba. Ada semacam getar di udara. Sesuatu yang dinanti-nanti hampir sampai.
Kemarin Maria berkata, jadilah padaku menurut perkataanmu. Hari ini, kata Injil, ia langsung bergegas berangkat ke pegunungan menuju rumah Elisabet. Orang yang baru menerima kabar besar tidak bisa duduk diam. Kaki Maria seakan tak sabar membawa kabar sukacita itu kepada saudarinya.
Dan ketika salam Maria sampai ke telinga Elisabet, terjadilah hal yang menakjubkan. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak. Yohanes kecil, yang bahkan belum lahir, sudah menari mendengar suara ibu Tuhannya. Sukacita rupanya menular lebih cepat daripada kata-kata, sampai menembus dinding rahim.
Bacaan pertama dari Kidung Agung memakai bahasa yang serupa. Sang kekasih datang melompat-lompat di atas gunung, meloncat-loncat di atas bukit. Ia berseru, bangunlah, manisku, sebab musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti, bunga-bunga bermunculan di ladang. Kekasih yang lama dinanti akhirnya datang, dan seluruh alam ikut bergembira.
Malam ini kita menanti kedatangan yang serupa. Pertanyaannya sederhana. Adakah sesuatu di dalam diri kita yang masih sanggup melonjak seperti bayi Yohanes, ketika Tuhan mendekat?
Tuhan, malam ini Engkau hampir tiba. Buatlah hatiku melonjak seperti bayi dalam rahim Elisabet, menyambut kedatangan-Mu. Amin.