‹ Semua renungan

Jumat, 22 November 2030

Manis di Mulut

Jamu itu jujur: pahit di lidah, sehat di badan. Firman Tuhan kadang bekerja sebaliknya: manis di mulut, pahit di perut. Persis itulah pengalaman Yohanes hari ini. Malaikat menyuruhnya mengambil gulungan kitab kecil dan memakannya. Di mulut terasa manis seperti madu; sesudah ditelan, perutnya menjadi pahit.

Firman memang manis didengarkan: janji penyertaan, kisah kasih, penghiburan di kala susah. Tetapi begitu ditelan sungguh-sungguh, ia mulai menuntut: mengampuni orang yang menyakiti, tetap jujur ketika rugi, bersuara benar di tengah orang yang tidak mau mendengar. Manisnya gratis; pahitnya adalah harga menjadi saksi. Yohanes pun sesudah itu diutus: engkau harus bernubuat lagi.

Injil memperlihatkan dua reaksi terhadap firman yang sama. Yesus membersihkan Bait Allah dan mengajar di sana tiap hari. Seluruh rakyat terpikat dan ingin mendengarkan Dia; para pemuka justru mencari jalan membinasakan-Nya. Firman yang satu: bagi yang terbuka terasa madu, bagi yang terusik terasa ancaman.

Kemarin kita mendengar Yesus menangisi kota itu; hari ini Ia masuk dan bertindak. Kasih yang sejati memang tidak berhenti pada air mata. Santa Sesilia, yang dikenang hari ini, menelan firman itu sampai tuntas, sampai mahkota martir.

Aku sendiri di mana: cukup mengecap manisnya, atau berani menelannya bulat-bulat?

Tuhan, beri aku keberanian menelan firman-Mu seluruhnya, manis maupun pahitnya, dan menghidupinya sampai tuntas. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →