Sabtu, 23 November 2030
Allah Orang Hidup
Di warung kopi selalu ada tukang debat. Pertanyaannya diajukan bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menjatuhkan lawan bicara. Kalau lawan terdiam, ia merasa menang. Soal kebenarannya sendiri, itu urusan nomor dua.
Orang-orang Saduki datang kepada Yesus dengan gaya itu. Mereka tidak percaya kebangkitan, lalu menyusun cerita yang sengaja dibuat serba runyam: satu perempuan dinikahi tujuh bersaudara secara bergiliran, semuanya mati tanpa anak. Pada hari kebangkitan, istri siapakah dia? Skenario rapi untuk menertawakan surga.
Yesus tidak terpancing masuk perangkap. Ia mengangkat persoalannya ke tempat yang lebih tinggi: hidup kebangkitan bukan salinan hidup sekarang; di sana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, sebab mereka tidak dapat mati lagi. Lalu keluarlah kalimat yang mengubah segalanya: Allah menyebut diri-Nya Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.
Di hadapan Allah tidak ada kata mendiang. Abraham hidup. Orang-orang yang kita rindukan dan doakan sepanjang November ini hidup di hadapan-Nya. Bahkan ahli-ahli Taurat pun mengaku: jawab-Mu tepat sekali.
Tinggal satu pemeriksaan kecil untuk kita: pertanyaan-pertanyaanku kepada Tuhan selama ini kuajukan untuk menang, atau untuk sungguh mencari Dia?
Allah orang hidup, hidupkanlah imanku, dan peliharalah dalam hadirat-Mu semua orang yang kukasihi. Amin.