Jumat, 22 November 2030
S. Sesilia
Peringatan WajibBacaan Misa
Bacaan Pertama Wahyu 10:8-11
Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu." Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu." Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya. Maka ia berkata kepadaku: "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja."
Mazmur Tanggapan Mazmur 119:14,24,72,103,111,131
Bacaan Injil Lukas 19:45-48
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.
Renungan
Manis di Mulut
Jamu itu jujur: pahit di lidah, sehat di badan. Firman Tuhan kadang bekerja sebaliknya: manis di mulut, pahit di perut. Persis itulah pengalaman Yohanes hari ini. Malaikat menyuruhnya mengambil gulungan kitab kecil dan memakannya. Di mulut terasa manis seperti madu; sesudah ditelan, perutnya menjadi pahit.
Firman memang manis didengarkan: janji penyertaan, kisah kasih, penghiburan di kala susah. Tetapi begitu ditelan sungguh-sungguh, ia mulai menuntut: mengampuni orang yang menyakiti, tetap jujur ketika rugi, bersuara benar di tengah orang yang tidak mau mendengar. Manisnya gratis; pahitnya adalah harga menjadi saksi. Yohanes pun sesudah itu diutus: engkau harus bernubuat lagi.
Injil memperlihatkan dua reaksi terhadap firman yang sama. Yesus membersihkan Bait Allah dan mengajar di sana tiap hari. Seluruh rakyat terpikat dan ingin mendengarkan Dia; para pemuka justru mencari jalan membinasakan-Nya. Firman yang satu: bagi yang terbuka terasa madu, bagi yang terusik terasa ancaman.
Kemarin kita mendengar Yesus menangisi kota itu; hari ini Ia masuk dan bertindak. Kasih yang sejati memang tidak berhenti pada air mata. Santa Sesilia, yang dikenang hari ini, menelan firman itu sampai tuntas, sampai mahkota martir.
Aku sendiri di mana: cukup mengecap manisnya, atau berani menelannya bulat-bulat?
Tuhan, beri aku keberanian menelan firman-Mu seluruhnya, manis maupun pahitnya, dan menghidupinya sampai tuntas. Amin.
Invitatorium
JUMAT I PAGI
Pembukaan
Ant. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setiaNya.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setiaNya.
Ibadat Bacaan
Ibadat Bacaan untuk Jumat dalam Pekan Biasa
MADAH
PSALMODI
Ant. 1 Ya Allahku, janganlah Engkau menolak seruanku minta tolong, yang diserang oleh orang-orang fasik.
Mazmur 55
Melawan seorang sahabat yang terbukti pengkhianat
Yesus diliputi rasa takut dan duka (Markus 14:33).
Ant. Ya Allahku, janganlah Engkau menolak seruanku minta tolong, yang diserang oleh orang-orang fasik.
Ant. 2 Tuhan sendiri akan membebaskan kita dari tangan-tangan yang memusuhi dan berkhianat.
Ant. Tuhan sendiri akan membebaskan kita dari tangan-tangan yang memusuhi dan berkhianat.
Ant. 3 Serahkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan; Ia akan menopangmu.
Ant. Serahkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan; Ia akan menopangmu.
BACAAN
RESPONSORIUM Daniel 10:12, 19, 21
RESPONSORIUM Yudas 21; Titus 2:12
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Mazmur 50
Ant.1: Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Ant.2: Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Yes 45,15-26
Ant.2: Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Ant.3: Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Mazmur 99
Ant.3: Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Bacaan Singkat (Ef 4,29-32)
Lagu Singkat
Ant.Kidung: Tuhan telah mengunjungi dan membebaskan umatNya.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Tuhan telah mengunjungi dan membebaskan umatNya.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
JUMAT I SIANG
Madah
Ant.1: Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Mazmur 118 (119),25-32
Ant.1: Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Ant.2: Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Mazmur 25 (26)
Ant.2: Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Ant.3: Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Mazmur 27 (29),1-3.6-9
Ant.3: Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Bacaan singkat (Kol 3,12-13)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Sore
JUMAT I SORE
Madah
Ant.1: Sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Mazmur 40
Ant.1: Sembuhkan aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Ant.2: Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Mazmur 45
Ant.2: Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Ant.3: Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Why 15,3-4
Ant.3: Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Bacaan Singkat (Rom 15,1-3a)
Ant.Kidung: Tuhan telah menyambut kita, hamba-hambaNya, demi kasih sayangNya yang besar.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Tuhan telah menyambut kita, hamba-hambaNya, demi kasih sayangNya yang besar.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - JUMAT
Doa Tobat
Madah
Ant: Siang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 87 (88)
Ant: Siang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat (Yer 14,9)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Sesilia
Perawan dan Martir · ± abad ke-2/ke-3
Sesilia adalah salah satu martir Roma yang paling dihormati, dan namanya disebut dalam Doa Syukur Agung. Menurut tradisi, ia lahir dari keluarga bangsawan Roma dan menjadi Kristen sejak muda. Ia telah berjanji mempersembahkan keperawanannya kepada Allah, tetapi orang tuanya menikahkannya dengan seorang pemuda kafir bernama Valerianus.
Pada malam pernikahan, Sesilia menceritakan janjinya kepada Valerianus dan mengajaknya mengenal iman Kristen. Valerianus bersedia dibaptis, dan bersama saudaranya Tiburtius ia pun menjadi Kristen. Mereka bertiga rajin menolong sesama, membagikan harta kepada orang miskin, dan menguburkan jenazah para martir. Karena itu Valerianus dan Tiburtius ditangkap dan dihukum mati lebih dulu.
Sesilia sendiri kemudian ditangkap karena imannya. Menurut kisah, ia hendak dibunuh dengan uap panas, tetapi tetap selamat, lalu diperintahkan untuk dipenggal. Algojo memukul lehernya beberapa kali namun ia belum juga mati, dan selama beberapa hari ia masih hidup sambil meneguhkan iman umat. Karena tradisi menyebut ia bernyanyi memuji Tuhan di dalam hatinya, ia dikenang sebagai pelindung musik gereja. Ia wafat sebagai martir di Roma.
Pelindung: para musisi, penyanyi, pemusik gereja, dan seni musik.
Santa Sesilia
Perawan dan Martir
Cerita-cerita mengenai Sesilia kurang pasti dan jelas. Dalam buku 'Acta' (Cerita Kuno) yang berbau legenda, diceritakan bahwa Sesilia adalah seorang gadis Roma yang telah menjadi Kristen. Ia, puteri bangsawan dari suku bangsa Coesilia, suku terkenal yang menghasilkan banyak pemimpin serta delapanbelas orang konsul untuk Republik Roma pada masa itu. Konon semenjak kecil ia telah berikrar kepada Allah untuk hidup suci-murni dan tidak menikah. Namun ketika sudah dewasa, orang-tuanya mempertunangkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda yang berhati mulia dan jujur tetapi masih kafir.
Sebagai anak yang sudah menjelang dewasa, ia cukup bijaksana menghadapi ulah orang-tuanya. Ia tidak menoIak kehendak orang tuanya, kendatipun dalam hatinya ia terus berupaya mencari jalan bagaimana cara ia tetap mempertahankan ikrar kemurniannya. Ia yakin bahwa Tuhan yang Mahakuasa akan membantunya dalam niatnya yang baik itu. Dengan keyakinan itu, imannya tidak goyah sambil tetap menghormati kedua orang-tuanya. Ketika hari perkawinannya tiba, maka Sesilia mengikuti upacara sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani; sementara itu para tamu sudah datang dan bunyi musik pun sudah ramai terdengar. Seusai pesta perkawinan itu, ia bersama Valerianus memasuki kamar mereka sebagai suami-isteri.
Dengan berani Sesilia berkata kepada suaminya Valerianus: "Valerianus! Aku mau menceritakan kepadamu suatu rahasia pribadi. Aku mohon engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku mempunyai seorang malaekat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku sebagaimana biasanya dilakukan oleh suami-isteri yang sudah menikah secara resmi, maka malaekat itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi jika engkau menghormati keperawananku, maka malaekat pelindungku itu akan mencintai emgkau sebagaimana dia mencintai aku."
Kata Valerianus: "Tunjukkanlah malaekat itu kepadaku. Jika ia berasal dari Tuhan maka aku akan mengikuti kemauanmu." Jawab Sesilia: "Jika engkau percaya dan mau dibaptis menjadi Kristen, engkau akan melihat malaekat itu." Valerianus menyetujui usul Sesilia, isterinya. Ia disuruh menghadap Paus Urbanus, yang tinggal di Jalan Apia. Di sana ia mengalami suatu penampakan ajaib dan mendapat pengetahuan iman lalu ia bertobat dan dipermandikan oleh Paus Urbanus. Ketika ia kembali ke rumah, didapatinya Sesilia sedang berdoa didampingi seorang malaekat yang membawa 2 mahkota bunga: untuk Sesilia dan Valerianus. Valerianus sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Dengan itu apa yang dikehendakinya terpenuhi: ia melihat sendiri malaekat pelindung Sesilia, isterinya.
Pada waktu itu Kaisar Roma Diokletianus sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristen. Dengan rajin Sesilia dan Valerianus setiap hari menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang dibunuh. Valerianus kemudian tertangkap dan dihukum mati bersama adiknya dan seorang tentara Romawi yang bertobat. Tak lama kemudian Sesilia juga ditangkap dan diadili. Ia menolak dengan tegas bujukan para penguasa. Maka ia disiksa dengan bermacam-macam cara, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Akhirnya dia dipenggal lehernya dan wafat sebagai martir Kristus pada tahun 230.
Keberaniannya menghadapi kemartirannya membuat Sesilia tampil sebagai contoh gadis Kristen sejati, yang menjadikan hidupnya suatu madah pujian bagi Tuhan; ia dengan tegas dan gembira memilih keperawanan dan lebih senang mati daripada menyangkal cinta setianya kepada Kristus. Kemartirannya membuat banyak orang Roma bertobat dan mengimani Kristus. Dalam abad kelima di Roma didirikan sebuah gereja basilik untuk menghormatinya, dan devosi-devosi rakyat segera mengangkatnya sebagai pelindung paduan suara dan musik gerejawi.
Santo Filemon
Rekan Sekerja Santo Paulus
Filemon yang berarti 'yang mengasihi' adalah kawan dan teman sekerja Santo Paulus di Kolose, Turki. Ia seorang Kristen yang kaya raya di dalam jemaat Kolose. Rumahnya sering digunakan untuk merayakan Ekaristi Kudus.
Ia mempunyai seorang budak, bernama Onesimus. Karena sesuatu masalah Onesimus lari ke Roma. Di sana ia ditobatkan oleh Paulus. Setelah itu ia dikirim kembali kepada Filemon dengan sepucuk surat pengantar dari Paulus. Surat itulah 'Surat Filemon' yang diakui juga sebagai salah satu surat pastoral dalam Kitab Perjanjian Baru. Surat Filemon digolongkan ke dalam kelompok 'surat dari penjara'. Di dalamnya Paulus meminta kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus. Paulus berharap untuk mempertahankan Onesimus selaku pengantar. Konon, Filemon yang dikenal dermawan ini menjadi uskup dan mati sebagai martir.