‹ Semua renungan

Kamis, 21 November 2030

Air Mata di Atas Kota

Kita jarang melihat orang dewasa menangis, apalagi seorang bapak, apalagi di tempat umum. Air mata terlanjur dianggap kelemahan yang harus disembunyikan di balik pintu.

Hari ini kita memandang Yesus menangis di tempat terbuka. Dari ketinggian jalan menuruni bukit, Ia melihat Yerusalem terhampar, lalu menangisinya: wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Yang menangis itu bukan orang kalah. Yang menangis itu Allah yang kasih-Nya ditolak, dan yang toh tetap mengasihi.

Kitab Wahyu juga menyimpan tangisan. Yohanes menangis amat sedih karena tidak seorang pun layak membuka gulungan kitab sejarah. Lalu seorang tua-tua berkata: jangan menangis, sesungguhnya singa dari suku Yehuda telah menang. Dan yang tampil bukan singa yang garang, melainkan Anak Domba yang disembelih. Dalam Kitab Suci, air mata tidak pernah menjadi kata terakhir; ia selalu berujung pada pengharapan.

Maria, yang persembahan dirinya kepada Allah kita kenang hari ini, mengerti jalan itu: hati yang diserahkan sejak belia kelak ikut tertembus pedih di kaki salib, dan tetap percaya.

Kita pandai menangisi kerugian sendiri. Tetapi kapan terakhir kali aku menangisi apa yang juga ditangisi Tuhan: perpecahan, kekerasan, orang-orang yang menolak damai-Nya?

Tuhan, lembutkanlah hatiku yang keras, agar aku ikut merasakan apa yang Kautangisi, dan mengerjakan apa yang mendatangkan damai-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →