Rabu, 20 November 2030
Nyanyian yang Tak Berhenti
Ibu-ibu koor paroki latihan sampai malam. Nadanya diulang-ulang, kadang masih fals juga. Untuk apa repot-repot? Kitab Wahyu hari ini memberi jawaban yang megah: di surga ada nyanyian yang tidak pernah berhenti. Empat makhluk di sekeliling takhta, siang dan malam, tiada hentinya berseru: kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah Yang Mahakuasa.
Artinya, setiap kali kita menyanyikan Kudus dalam Misa, kita bukan sedang memulai sebuah lagu. Kita sedang menyambung nyanyian yang sudah dan terus dinyanyikan di hadapan takhta Allah. Koor kampung yang fals itu, tanpa disadarinya, satu paduan suara dengan para malaikat.
Hari ini Gereja mengenang Santa Sesilia, martir Roma yang menjadi pelindung para pemusik. Kisah tuanya menuturkan bahwa di tengah hingar pesta pernikahannya, ia bernyanyi bagi Tuhan di dalam hatinya. Nyanyian sejati memang lahir di hati sebelum sampai di bibir.
Injil menambahkan peringatannya. Masih di Yerikho, di kota Zakheus yang kemarin kita dengar, Yesus bercerita tentang uang mina: hamba yang menyimpan minanya dalam sapu tangan justru kehilangan segalanya. Suara, tenaga, waktu, kepekaan: semuanya mina yang diminta untuk dijalankan, bukan dibungkus rapi karena takut salah.
Karunia apa yang selama ini masih kusimpan dalam sapu tangan?
Tuhan, jadikanlah hidupku nyanyian yang tak berhenti bagi-Mu, dan beranikanlah aku menjalankan setiap karunia yang Kautitipkan. Amin.