Sabtu, 2 November 2030
Penebusku Hidup
Setiap awal November, makam-makam mendadak ramai. Rumput dibersihkan, nisan disiram, bunga ditaburkan. Orang Jawa menyebutnya nyekar. Ada yang datang serombongan keluarga, ada yang datang sendirian, berdiri lama, dan berbisik pelan di depan pusara.
Untuk apa berbisik kepada orang yang tidak lagi menjawab? Dunia menyebutnya kenangan. Iman berani menyebutnya lebih dari itu: percakapan itu tidak sia-sia, sebab yang kita ajak bicara tidak lenyap.
Dengarkanlah Ayub. Ia sedang remuk sehancur-hancurnya: harta habis, anak-anak mati, badan penuh barah. Justru dari titik terendah itu keluar kalimat yang mengguncang: aku tahu, Penebusku hidup. Kalimat itu tidak diucapkan di ruang ibadat yang nyaman, melainkan dari atas timbunan debu, oleh orang yang kehilangan segalanya. Ayub bahkan ingin kata-katanya dipahat pada gunung batu supaya tidak hilang. Dan sungguh tidak hilang. Ribuan tahun kemudian kita masih membacanya.
Yesus dalam Injil hari ini membuka isi hati Bapa: dari semua yang diberikan kepada-Ku, jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Camkanlah tiga kata itu: jangan ada yang hilang. Genggaman Allah tidak longgar. Maut boleh memisahkan orang terkasih dari pandangan kita, tetapi tidak dari genggaman itu.
Karena itulah Gereja hari ini berdoa bagi arwah semua orang beriman. Doa bagi orang mati adalah kasih yang menolak putus. Paulus memberi alasannya kepada jemaat Roma: pengharapan tidak mengecewakan. Kalau Kristus rela mati bagi kita ketika kita masih berdosa, masakan Ia melepaskan kita justru setelah kita mati? Yang mengasihi sampai sehabis-habisnya tidak berhenti mengasihi di ambang kubur.
Maka ziarah ke makam bukan perjalanan menuju masa lalu. Ia latihan pengharapan. Batu nisan yang kita pandangi bukan titik akhir sebuah nama, melainkan tanda tunggu, seperti kursi yang masih dipesan pemiliknya.
Hari ini, siapa nama yang ingin kusebut di hadapan Tuhan? Sebutlah pelan-pelan, satu per satu. Tidak ada satu pun dari nama itu yang jatuh ke ruang kosong.
Tuhan, dalam kerahiman-Mu, terimalah saudara-saudari kami yang telah mendahului kami. Hapuslah sisa dosa mereka, dan sambutlah mereka dalam terang wajah-Mu. Penebusku hidup, dan bersama-Nya mereka pun hidup. Amin.