Jumat, 1 November 2030
Putih karena Darah
Ibu-ibu di rumah tahu betul: baju putih itu paling rewel dirawat. Kena kunyit sedikit, membekas. Kena getah, tamat riwayatnya. Makin putih kainnya, makin jelas nodanya. Maka untuk kerja kasar orang memilih baju gelap. Aman. Noda tersembunyi.
Hari ini Gereja merayakan Semua Orang Kudus, dan Kitab Wahyu membuka tirai surga: suatu kumpulan besar yang tidak terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, semuanya berjubah putih. Dari mana putih itu? Jawaban tua-tua di hadapan takhta sungguh mengejutkan: mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.
Aneh, bukan? Adakah orang mencuci dengan darah? Darah justru meninggalkan noda paling bandel. Tetapi di situlah rahasianya. Orang kudus bukanlah orang yang berhasil menjaga bajunya bersih seumur hidup. Orang kudus adalah orang yang berani membawa bajunya yang kotor kepada Dia yang sanggup memutihkannya. Putih mereka bukan hasil cucian sendiri. Putih mereka pemberian.
Karena itu daftar bahagia yang diucapkan Yesus di bukit terdengar seperti daftar orang biasa. Yang miskin di hadapan Allah. Yang berdukacita. Yang lemah lembut. Yang lapar dan haus akan kebenaran. Tidak ada syarat gelar, tidak ada syarat mukjizat. Surga rupanya dihuni orang-orang yang wajahnya kita kenal sehari-hari: nenek yang setia mendaraskan rosario, bapak yang tetap jujur meski dagangannya kecil, ibu yang memilih berdamai dengan tetangganya.
Menarik pula, mereka disebut orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar. Kekudusan tidak lahir di ruang steril. Ia ditempa di dapur yang panas, di pasar yang gaduh, di sisi ranjang orang sakit, di semua tempat orang memilih tetap setia meski sulit.
Surat Yohanes menambahkan kalimat yang menenangkan: sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata keadaan kita kelak. Kekudusan bukan piala yang direbut sekali jadi. Ia perjalanan yang dicicil setiap hari. Hari ini kita merayakan mereka yang sudah sampai, termasuk yang namanya tidak pernah tercantum dalam kalender liturgi. Mungkin kakek kita. Mungkin katekis tua di stasi dulu.
Pertanyaannya sederhana. Siapa orang kudus tanpa nama yang pernah Tuhan kirim dalam hidupku? Dan beranikah aku, dengan baju kusam yang ini, ikut antre di tempat pencucian yang sama?
Tuhan, aku datang membawa jubahku yang penuh noda. Basuhlah aku dalam kasih Anak Domba, agar kelak aku boleh berdiri dalam barisan putih para kudus-Mu. Amin.