Kamis, 31 Oktober 2030
Tidak Akan Kubuang
Di banyak rumah masih tergantung foto-foto lama: kakek yang sudah tiada, orang tua yang telah berpulang, wajah-wajah yang kini hanya bisa kita tatap dalam bingkai. Kalau lampu dinyalakan malam hari, foto-foto itu seolah ikut memandang kita. Mereka pergi, tetapi tidak sungguh-sungguh hilang dari ingatan. Setiap kali kita menatapnya, ada percakapan diam yang berlangsung, seolah mereka masih dekat, hanya berada di ruang lain yang belum bisa kita masuki.
Hari ini Gereja memperingati Arwah Semua Orang Beriman. Kita mendoakan mereka yang telah mendahului, dan sekaligus menegaskan sebuah keyakinan: yang telah pergi tidak lenyap ke dalam kegelapan. Mereka ada dalam tangan Allah.
Dari mana keyakinan itu? Bukan dari perasaan kita, melainkan dari janji Yesus sendiri. "Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang." Kalimat itu perlu digenggam erat justru pada hari seperti ini. Tuhan tidak menolak siapa pun yang datang kepada-Nya, betapapun rapuh imannya semasa hidup. Ia bahkan menambahkan kehendak Bapa: supaya "dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman."
Paulus meletakkan dasarnya lebih dalam lagi. "Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Perhatikan waktunya: bukan setelah kita menjadi baik, melainkan ketika kita masih jauh. Kalau Allah sudah rela mati bagi kita saat kita masih seteru, terlebih lagi Ia tidak akan melepaskan kita sesudah didamaikan. Itulah sebabnya, kata Paulus, pengharapan tidak mengecewakan.
Mendoakan arwah, dengan demikian, bukan tindakan sia-sia menembak kegelapan. Ia adalah ungkapan cinta yang percaya bahwa kasih lebih kuat daripada maut, dan bahwa ikatan kita dengan orang terkasih tidak diputus oleh kubur. Kita mendoakan mereka bukan karena ragu akan kerahiman Allah, melainkan karena cinta memang tidak pernah berhenti mengurus yang dikasihinya, bahkan setelah maut memisahkan pandangan.
Wajah-wajah dalam bingkai foto itu suatu hari akan kita susul. Dan iman berkata, perjumpaan itu bukan mustahil, sebab yang menanti bukan kehampaan, melainkan Dia yang tidak pernah membuang siapa pun yang datang kepada-Nya.
Hari ini, adakah nama yang perlu kudoakan dengan sungguh, dan sudahkah aku menaruh harapanku pada Dia yang tak menolak?
Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan semua yang telah mendahului aku. Engkau tidak membuang siapa pun yang datang; terimalah mereka dalam terang-Mu, dan teguhkanlah pengharapanku yang tak mengecewakan. Amin.