‹ Semua renungan

Rabu, 30 Oktober 2030

Mirip Bapa

Orang tua sering mendengar komentar tentang anaknya: wah, hidungnya mirip bapaknya, atau senyumnya persis ibunya. Kemiripan itu kadang belum tampak waktu bayi, lalu makin jelas seiring anak bertumbuh. Darah yang sama pelan-pelan menampakkan wajahnya.

Hari raya Semua Orang Kudus menaruh kebenaran itu dalam bahasa iman. Rasul Yohanes menulis dengan takjub: "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah." Bukan kelak, bukan nanti. Sekarang, hari ini, kita sudah anak-anak Allah.

Tetapi Yohanes melanjutkan dengan jujur: "belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia." Kekudusan ternyata bukan gelar yang tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan kemiripan keluarga yang perlahan tersingkap. Para kudus adalah mereka yang membiarkan wajah Bapa makin kelihatan pada diri mereka.

Lalu bagaimana wajah itu tampak? Yesus melukiskannya di atas bukit, dalam Sabda Bahagia. Dan potret itu mengejutkan. Yang disebut berbahagia bukan yang kuat dan menang, melainkan yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar akan kebenaran, yang murah hati, yang membawa damai. Itulah roman muka keluarga Allah. Bukan wajah pemenang menurut ukuran dunia, melainkan wajah orang yang hatinya condong pada yang benar. Dan menariknya, satu keluarga bisa mirip dalam banyak hal sekaligus. Orang kudus bukan hanya lembut, atau hanya murah hati, atau hanya pembawa damai; sedikit demi sedikit seluruh roman itu tumbuh bersama pada dirinya.

Maka merayakan para kudus bukanlah menatap deretan orang yang mustahil kita tiru. Mereka bukan makhluk dari planet lain. Mereka orang-orang yang membiarkan darah baptisan itu bekerja sampai wajah Kristus makin nyata pada mereka. Banyak dari mereka bahkan tak tercatat dalam kalender: nenek yang tekun berdoa, guru yang jujur, tetangga yang murah hati.

Dan justru karena kemiripan itu masih belum nyata sepenuhnya, ada harapan bagi kita yang merasa masih jauh. Wajah kita belum jadi. Masih dalam proses. Setiap perbuatan kasih hari ini adalah satu goresan lagi yang membuat kemiripan itu makin tampak.

Hari ini, dari daftar Sabda Bahagia itu, ciri wajah Bapa yang mana yang paling perlu kubiarkan tumbuh dalam diriku?

Bapa, Engkau menyebut aku anak-Mu. Kerjakanlah dalam diriku kemiripan dengan Putra-Mu, sampai kelak aku boleh melihat Engkau dan menjadi serupa dengan Dia. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →