‹ Semua renungan

Minggu, 3 November 2030

Pesan yang Diulang

Setiap kali anak pamit keluar rumah, ibu mengucapkan kalimat yang sama: hati-hati di jalan. Sudah ribuan kali. Anaknya hafal, kadang menjawabnya sebelum sang ibu selesai bicara. Tetapi ibu tidak pernah bosan mengulangnya. Pesan itu diulang bukan karena lupa pernah dikatakan. Pesan itu diulang karena terlalu penting untuk tidak dikatakan.

Israel punya kalimat semacam itu. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu. Pesan dari kitab Ulangan ini didaraskan setiap pagi dan petang, diajarkan kepada anak dan cucu, diikatkan pada tangan dan ambang pintu. Diulang terus, dari generasi ke generasi.

Maka ketika seorang ahli Taurat bertanya hukum manakah yang paling utama, Yesus tidak menciptakan jawaban baru. Ia mengutip pesan tua itu, lalu menyambungnya dengan yang kedua: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Hukum yang terutama ternyata bukan barang langka yang tersembunyi. Ia pesan ibu yang sudah diulang ribuan tahun.

Ahli Taurat itu setuju, bahkan menambahkan sendiri: kasih lebih utama daripada semua kurban bakaran. Jawaban Yesus kepadanya patut kita timbang lama-lama: engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah. Tidak jauh. Belum masuk. Antara memahami dan menghidupi masih ada satu langkah lagi, dan langkah itulah yang paling berat. Banyak dari kita hafal hukum kasih di luar kepala, persis seperti anak hafal pesan ibunya. Persoalannya bukan hafalan. Persoalannya, apakah di jalan kita sungguh berhati-hati.

Surat Ibrani memberi kabar baiknya: kita tidak berjalan sendirian. Yesus, Imam Besar yang hidup selama-lamanya, senantiasa menjadi Pengantara kita. Yang memberi perintah kasih adalah juga yang mendoakan kita supaya sanggup melakukannya. Seperti ibu yang tidak hanya berpesan di depan pintu, tetapi diam-diam mendoakan anaknya sepanjang jalan.

Hari ini, cobalah dengar lagi pesan lama itu seolah baru pertama kali: kasihilah dengan segenap. Bukan dengan sisa waktu, sisa tenaga, sisa perhatian. Segenap.

Tuhan, Engkau tidak bosan mengulang pesan-Mu kepadaku. Jangan biarkan aku berhenti pada hafalan; tuntunlah aku melangkah dari mengerti menuju mengasihi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →