Senin, 4 November 2030
Tanpa Buku Catatan
Di banyak hajatan ada buku kecil di dekat kotak sumbangan. Nama dan jumlah dicatat rapi. Kelak, waktu si penyumbang punya hajat sendiri, catatan itu dibuka kembali: dulu kita diberi sekian, mari kembalikan sekian. Kebaikan berjalan seperti arisan, berputar di antara orang yang sanggup saling membalas.
Yesus menawarkan cara lain. Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang miskin, orang cacat, orang lumpuh, orang buta. Mereka tidak punya apa-apa untuk membalas. Justru di situ letak bahagianya: pemberian kita akhirnya bersih dari hitungan, dan balasnya menunggu pada hari kebangkitan orang benar.
Paulus menulis hal senada kepada jemaat Filipi: jangan mencari kepentingan sendiri, anggaplah orang lain lebih utama daripada dirimu. Santo Carolus Borromeus, uskup Milan yang kita kenang hari ini, menghidupi keduanya. Ketika wabah pes melanda kotanya, ia menjual perabot rumahnya sendiri dan turun langsung merawat orang-orang sakit. Mereka jelas tidak akan pernah bisa membalasnya. Justru itulah yang membuat kasihnya bersinar sampai sekarang.
Menolong sambil menunggu balasan sebenarnya bukan memberi, melainkan meminjamkan. Hari ini baiklah kita periksa buku catatan di dalam hati: kebaikan siapa yang masih kutunggu balasannya? Dan kepada siapa aku bisa memberi tanpa berharap kembali?
Tuhan, Engkau mengundangku ke perjamuan-Mu tanpa syarat apa pun. Ajarilah aku memberi tanpa buku catatan. Amin.