Selasa, 5 November 2030
Maaf, Saya Sibuk
Kemarin Yesus meminta kita mengundang mereka yang tidak dapat membalas. Hari ini Ia melanjutkannya dengan sebuah cerita: perjamuan besar sungguh digelar, dan pesannya sudah disampaikan: marilah, segala sesuatu sudah siap. Anehnya, para undangan justru berebut minta maaf.
Perhatikan alasan mereka. Baru membeli ladang. Baru membeli lima pasang lembu. Baru menikah. Tidak ada satu pun yang jahat. Semuanya urusan baik dan masuk akal. Di situlah letak peringatannya: undangan Allah jarang dikalahkan oleh dosa besar. Ia lebih sering dikalahkan oleh kesibukan yang sopan.
Bacaan pertama memperlihatkan kebalikannya. Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak sibuk mempertahankan kedudukan-Nya. Ia mengosongkan diri, mengambil rupa hamba, taat sampai mati di kayu salib. Sang Pengundang mengosongkan segala-galanya demi kita. Kita yang diundang merasa terlalu penuh untuk datang.
Namun tuan rumah tidak membatalkan pestanya. Ruangan itu tetap penuh, diisi orang miskin, orang cacat, orang buta dari segala lorong kota. Rahmat tidak pernah kekurangan tamu. Yang rugi hanyalah yang menolak.
Undangan itu masih berlaku hari ini: dalam doa, dalam Ekaristi, dalam sesama yang minta ditemani. Kalimat maaf sopan mana yang paling sering kupakai untuk menolak Tuhan?
Tuhan, kosongkanlah jadwal hatiku dari alasan-alasan yang rapi, supaya aku sempat duduk di perjamuan-Mu. Amin.