Minggu, 29 September 2030
Bukan Golongan Kita
Ada rasa senang yang aneh dalam merasa menjadi bagian dari kelompok dalam. Kita yang di sini, mereka yang di sana. Yang seragam, yang sepaham, yang sekubu. Dan begitu ada orang luar yang ternyata berbuat baik, diam-diam kita malah terganggu. Kok bisa, dia kan bukan golongan kita.
Persis itu yang terjadi pada Yohanes dalam Injil hari ini. Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah, karena ia bukan pengikut kita. Perhatikan alasannya. Bukan karena orang itu berbuat jahat, tetapi semata karena ia bukan bagian dari kelompok mereka.
Jawaban Yesus melegakan sekaligus menegur. Jangan kamu cegah dia. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Kebaikan tidak pernah menjadi milik satu kelompok. Roh Allah bebas berembus ke mana Ia mau, juga lewat orang yang tak kita duga.
Sikap yang sama sudah muncul ribuan tahun sebelumnya. Dalam Bacaan Pertama, Yosua cemburu ketika Eldad dan Medad kepenuhan Roh dan bernubuat di luar kemah, di luar tempat resmi. Cegahlah mereka, tuanku Musa. Tetapi Musa menjawab dengan lapang hati: ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi. Musa tidak merasa kuasa Roh mengancam dirinya. Ia justru mendambakan Roh itu meluap kepada sebanyak mungkin orang.
Di sinilah letak ujian kita. Cemburu rohani sering menyamar sebagai kesetiaan. Kita mengira sedang membela kemurnian iman, padahal sebenarnya sedang membela zona nyaman kelompok sendiri.
Yakobus dalam Bacaan Kedua memberi peringatan keras yang melengkapi ini. Minggu lalu ia menegur pertengkaran yang lahir dari hawa nafsu. Hari ini ia menghantam orang kaya yang menimbun sambil menahan upah buruh yang telah menuai ladangnya. Hati yang sibuk membela kepentingan dan golongan sendiri gampang berujung pada ketidakadilan terhadap yang lemah.
Yesus menutup dengan kata yang keras: lebih baik tangan atau kaki dipenggal daripada seluruh diri jatuh ke dalam dosa. Ia serius menuntut kita membuang apa pun yang menyesatkan, termasuk kesempitan hati yang membuat kita menolak kebaikan hanya karena datang dari luar barisan.
Hari ini baik kita bertanya jujur. Pernahkah kita menghambat kebaikan, atau meremehkan iman orang lain, semata karena ia bukan golongan kita?
Tuhan, luaskan hatiku yang sempit. Ajarilah aku bersukacita atas kebaikan dari mana pun datangnya, sebab Roh-Mu bebas berembus melampaui batas-batas yang kubuat. Amin.