‹ Semua renungan

Sabtu, 28 September 2030

Selagi Masih Pagi

Orang muda sering merasa waktu masih sangat panjang. Tenaga penuh, badan bugar, masa tua terasa jauh di ujung yang tak perlu dipikirkan. Justru kepada orang muda itulah Pengkhotbah hari ini berbisik: ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu.

Ia lalu melukiskan datangnya usia senja dengan gambar yang halus dan puitis. Sebelum matahari dan terang menjadi gelap, sebelum penjaga-penjaga rumah gemetar dan orang-orang kuat membungkuk, sebelum pintu di tepi jalan tertutup dan suara menjadi seperti kicauan burung. Itu semua gambar tubuh yang menua, tangan yang mulai gemetar, punggung yang membungkuk, pendengaran yang meredup.

Pengkhotbah tidak sedang menakut-nakuti. Ia sedang mengajak kita menghargai pagi selagi masih pagi. Mengenal Tuhan bukan tugas yang bisa terus ditunda sampai rambut memutih. Justru masa muda adalah saat terbaik menanam akar iman, sebelum kesibukan dan usia mempersulit segalanya.

Dalam Injil, Yesus untuk kedua kalinya berbicara tentang penderitaan-Nya yang akan datang. Tetapi murid-murid tidak mengerti dan takut bertanya. Mereka menunda memahami, dan penundaan itu kelak membuat mereka tergagap saat salib tiba.

Begitulah bahaya menunda. Yang penting selalu terasa bisa dikerjakan besok, sampai besok itu tak lagi datang.

Hal rohani apa yang selama ini kita simpan untuk nanti, dengan alasan masih ada waktu? Selagi hari masih pagi, mengapa tidak sekarang?

Tuhan, ajarilah aku mengingat Engkau selagi masih pagi, dan tidak menunda mengenal-Mu sampai senja tiba. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →