Jumat, 27 September 2030
Di Bawah Pohon Ara
Setiap orang punya tempat berteduh yang menjadi miliknya sendiri. Sudut kamar, teras belakang, bangku di bawah pohon. Di sana kita menjadi diri sendiri, tanpa topeng, tanpa penonton. Kita mengira tak ada yang melihat kita di tempat sepi itu.
Natanael punya tempat seperti itu, sebatang pohon ara. Ketika Yesus pertama kali bertemu dengannya, Ia menyapa: lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya. Natanael heran, bagaimana Engkau mengenal aku? Jawab Yesus: sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.
Yesus melihatnya di tempat yang paling pribadi, saat Natanael mengira sendirian. Dan yang dilihat-Nya adalah hati tanpa kepalsuan. Nama Israel sendiri berarti ia yang bergumul dengan Allah. Natanael adalah orang yang bergulat jujur dengan imannya, tanpa berpura-pura.
Hari ini kita mengenang Santo Vinsensius a Paulo, bapak orang miskin. Ia pun seorang Israel sejati di zamannya, yang imannya tak berhenti di pikiran, tetapi turun ke tangan yang melayani gelandangan dan anak terlantar. Ketulusan yang dilihat Tuhan selalu berbuah pelayanan.
Melegakan sekali menyadari bahwa Tuhan sudah lebih dulu melihat kita, dan tetap memanggil. Ia tidak menunggu kita sempurna, hanya menunggu kita jujur.
Di bawah pohon ara kita masing-masing, di tempat kita mengira tak dilihat siapa pun, adakah hati kita jujur di hadapan Tuhan yang sudah melihat?
Tuhan, Engkau melihatku di tempat yang paling sembunyi. Bersihkan hatiku dari kepalsuan, dan jadikan aku pelayan yang tulus seperti hamba-hamba-Mu. Amin.