‹ Semua renungan

Kamis, 26 September 2030

Di Bawah Matahari

Kemarin kita melihat murid-murid diutus dengan tangan kosong, bebas dan ringan. Hari ini Pengkhotbah membawa kita ke suasana yang lain, ke seorang tua yang memandang hidup dengan mata lelah dan berkata: kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.

Ia menyebut lingkaran yang tak henti. Matahari terbit lalu terbenam, terburu-buru kembali ke tempat ia terbit. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tak pernah penuh. Dan puncaknya: tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Kata yang dipakai Pengkhotbah untuk kesia-siaan itu, dalam bahasa aslinya hevel, sebenarnya berarti uap atau embusan napas. Sesuatu yang nyata sesaat, lalu lenyap begitu digenggam. Bukan berarti tak ada gunanya, melainkan tak bisa dijadikan pegangan yang kekal.

Inilah yang sering luput dari kita. Kita mengejar hal-hal yang bersifat uap, lalu heran ketika tangan tetap terasa kosong. Sebab semua yang di bawah matahari memang tidak dirancang untuk mengenyangkan jiwa selamanya.

Dalam Injil, Herodes gelisah mendengar tentang Yesus. Ia punya takhta dan kekayaan, tetapi hatinya tak tenang. Ia mencari Yesus bukan untuk percaya, melainkan karena resah. Hidup yang penuh, tetapi hampa.

Pengkhotbah tidak mengajak kita putus asa, melainkan berhenti mencari kepenuhan pada yang fana. Hanya Dia yang di atas matahari yang sanggup mengisi hati.

Pada apa selama ini kita gantungkan rasa penuh, padahal ia hanya uap yang segera berlalu?

Tuhan, lepaskan aku dari mengejar yang sia-sia. Isilah hatiku dengan Engkau, satu-satunya yang tidak berlalu seperti uap. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →