Senin, 30 September 2030
Mencintai Kitab
Ada orang yang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya membungkuk di atas naskah kuno, menimbang satu demi satu kata, mencari padanan yang paling tepat. Itulah Santo Hieronimus, yang kita kenang hari ini. Ia menerjemahkan seluruh Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, karya yang kelak menghidupi iman Gereja berabad-abad lamanya.
Kalimatnya yang termasyhur pantas kita renungkan: tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus. Baginya, mencintai Kitab Suci dan mencintai Yesus adalah satu gerak hati yang sama. Sebab di dalam sabda yang tertulis itu, Sang Sabda sendiri hendak dijumpai.
Kita mudah menyimpan Kitab Suci di rak sebagai pajangan yang bersih tak tersentuh. Padahal ia diberikan untuk dibuka, dibaca, digumuli, sampai menjadi santapan sehari-hari. Iman tanpa firman lama-lama menjadi kering, sebab kehilangan sumber airnya.
Bacaan Pertama hari ini justru menampilkan iman yang teruji sampai ke dasar. Ayub kehilangan segalanya dalam satu hari, ternak, harta, bahkan anak-anaknya. Namun ia sujud dan berkata: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. Iman yang berakar pada pengenalan akan Allah tidak runtuh meski badai menyapu segalanya.
Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa yang terkecil di antara semua justru yang terbesar. Hieronimus yang cendekia pun harus belajar kerendahan ini, tunduk pada sabda, bukan menguasainya.
Kapan terakhir kali kita membuka Kitab Suci bukan sekadar untuk kewajiban, melainkan untuk sungguh berjumpa dengan Tuhan?
Tuhan, tumbuhkan dalam diriku cinta pada sabda-Mu, supaya lewat Kitab Suci aku semakin mengenal dan mengasihi Engkau. Amin.