Senin, 23 September 2030
Pelita di Atas Kaki Dian
Waktu lampu padam di kampung, orang mencari lilin atau pelita. Dan tak seorang pun yang menyalakan pelita lalu menutupnya dengan tempayan. Itu tindakan konyol. Susah payah menyalakan api, lalu sengaja menyembunyikan cahayanya. Pelita dinyalakan justru untuk ditaruh di tempat tinggi, supaya seisi rumah melihat terang.
Yesus memakai gambar ini hari ini. Tidak ada terang yang boleh disembunyikan. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan. Iman kita bukan barang simpanan untuk kamar sendiri, melainkan cahaya untuk menerangi orang lain.
Hari ini kita mengenang Santo Pius dari Pietrelcina, yang lebih dikenal sebagai Padre Pio. Hidupnya justru menjadi pelita yang tak bisa disembunyikan. Ia ingin menyepi, tetapi orang datang berbondong-bondong karena melihat terang Kristus memancar lewat dirinya. Cahaya sejati memang sulit ditutupi.
Amsal dalam Bacaan Pertama menerjemahkan terang itu ke perbuatan nyata. Jangan menahan kebaikan dari orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Jangan berkata kepada sesamamu: pergilah, besok akan kuberi, sedangkan yang diminta ada padamu. Kebaikan yang ditunda-tunda sama saja dengan pelita yang ditutup tempayan.
Sering kita menyimpan terang dengan alasan rendah hati, padahal sebenarnya takut merepotkan diri. Padahal terang bukan untuk pamer, melainkan untuk menerangi jalan orang lain.
Kebaikan apa yang mampu kita lakukan hari ini, tetapi kita tunda dengan kata nanti saja?
Tuhan, jadikanlah hidupku pelita yang tak kusembunyikan. Jauhkan aku dari kebiasaan menunda kebaikan yang bisa kulakukan hari ini juga. Amin.