Selasa, 24 September 2030
Siapa Saudara-Ku
Kemarin kita mendengar Yesus bicara tentang pelita yang tak boleh disembunyikan, dan tentang cara kita mendengar firman. Hari ini Ia menunjukkan apa jadinya kalau firman itu sungguh didengar dan dilakukan. Ternyata ia mengikat orang lebih erat daripada tali darah.
Ketika ibu dan saudara-saudara Yesus datang tetapi tak dapat mendekat karena orang banyak, ada yang memberitahu Dia. Jawaban-Nya di luar dugaan. Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.
Sekilas kalimat itu terdengar dingin, seolah Yesus menolak keluarga-Nya sendiri. Padahal justru sebaliknya. Ia sedang memperluas arti keluarga. Maria bukan hanya ibu jasmani Yesus, tetapi juga murid pertama yang paling sempurna mendengar dan melakukan firman. Ia masuk dalam keluarga itu lewat dua pintu sekaligus.
Yesus mengajarkan bahwa ada ikatan yang lebih dalam daripada garis keturunan, yaitu ikatan mereka yang sama-sama taat pada kehendak Allah. Di gereja, orang yang tak sedarah dengan kita bisa menjadi saudara sejati, karena satu Bapa dan satu firman.
Amsal dalam Bacaan Pertama menegaskan apa isi ketaatan itu. Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan Tuhan daripada korban. Mendengar firman selalu berujung pada berbuat, bukan sekadar merasa saleh.
Kita menyebut diri keluarga Allah. Tetapi apakah kita masuk lewat pintu yang benar, yakni mendengar firman lalu melakukannya, bukan sekadar mewarisi nama Kristen?
Tuhan, jadikan aku saudara-Mu yang sejati, bukan hanya dengan nama, melainkan dengan mendengar firman-Mu dan melakukannya setiap hari. Amin.