Minggu, 22 September 2030
Berebut Tempat Depan
Coba perhatikan apa yang terjadi ketika pintu kendaraan umum baru saja terbuka. Orang berdesakan, saling serobot, ingin mendapat tempat duduk lebih dulu. Naluri berebut tempat depan itu rupanya sudah setua manusia. Bahkan murid-murid Yesus pun tak kebal darinya.
Injil hari ini mencatat pemandangan yang memalukan. Di tengah jalan, ketika Yesus baru saja berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya, murid-murid justru sibuk mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Guru bicara tentang salib, murid bicara tentang kursi.
Yesus tidak memarahi mereka dengan keras. Ia duduk, memanggil mereka, lalu berkata tenang: jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. Lalu Ia mengambil seorang anak kecil, sosok yang di zaman itu dianggap tak diperhitungkan, dan menempatkannya di tengah. Barangsiapa menyambut anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.
Ukuran kebesaran dibalik total. Bukan yang paling atas, melainkan yang paling melayani. Bukan yang paling menonjol, melainkan yang mau merangkul yang paling kecil. Ada ungkapan Jawa yang pas di sini: aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa, jangan merasa mampu, tetapi mampukanlah diri untuk merasakan. Orang besar sejati adalah yang peka pada yang kecil, bukan yang sibuk merasa hebat.
Yakobus dalam Bacaan Kedua membongkar akar dari semua perebutan ini. Minggu lalu ia menegaskan iman tanpa perbuatan itu mati. Hari ini ia bertanya: dari manakah datangnya sengketa di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsu yang saling berjuang di dalam dirimu? Kamu iri, lalu bertengkar, tetapi tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Sebaliknya, hikmat dari atas selalu pendamai, peramah, penuh belas kasihan.
Bacaan Pertama dari Kitab Kebijaksanaan bahkan menunjukkan ke mana naluri berebut ini bisa berujung. Orang benar dianggap gangguan, lalu direncanakan untuk dihadang dan disingkirkan. Ambisi yang tak dikendalikan tidak hanya membuat kita saling serobot kursi, tetapi bisa membuat kita memusuhi kebaikan itu sendiri.
Perhatikan pula pilihan Yesus. Ia tidak menaruh seorang tokoh besar di tengah untuk dijadikan teladan, melainkan seorang anak kecil. Anak yang tak bisa membalas jasa, tak bisa menaikkan gengsi siapa pun. Menyambut yang seperti itu berarti melayani tanpa mengharap imbalan, dan justru di sanalah letak kebesaran yang dikehendaki Tuhan.
Maka pertanyaan hari ini menusuk. Di lingkungan kita, di tempat kerja, bahkan dalam pelayanan gereja, kita sedang berlomba menjadi yang terbesar, atau belajar menjadi pelayan yang menyambut yang terkecil?
Tuhan Yesus, sembuhkan hatiku dari nafsu berebut tempat depan. Ajarilah aku menjadi yang terakhir dan pelayan bagi semua, seperti Engkau. Amin.