Minggu, 18 Agustus 2030
Musuh yang Terakhir
Di kampung, panen pertama sering diperlakukan istimewa. Bulir padi yang paling awal masak tidak langsung habis dimakan. Ia menjadi tanda bahwa seluruh sawah akan menyusul. Kalau yang sulung sudah menguning, yang lain tinggal menunggu giliran.
Paulus memakai gambar itu untuk kebangkitan. 'Kristus telah dibangkitkan sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.' Ia bukan pengecualian, melainkan permulaan. Bulir pertama yang menjamin panen. Sesudah Dia, kata Paulus, menyusul mereka yang menjadi milik-Nya.
Kita hidup di antara dua panen. Yang sulung sudah bangkit. Yang lain masih di sawah, masih menunggu, masih harus melewati kematian. Dan kematian itu nyata. Paulus tidak berpura-pura ia tidak ada. Ia menyebutnya musuh. 'Musuh yang terakhir, yang dibinasakan, ialah maut.'
Perhatikan kata itu: yang terakhir. Maut memang musuh, tetapi ia bukan pemenang. Ia yang paling akhir dikalahkan, dan justru karena itu, ia pasti dikalahkan. Kita cenderung menaruh kematian sebagai titik akhir dari segalanya. Iman menaruhnya sebagai musuh kedua dari belakang. Sesudahnya masih ada satu kata lagi, dan kata itu adalah kehidupan.
Hari ini, ketika kita masih merenungkan Maria yang diangkat ke surga, bacaan-bacaan ini mengingatkan mengapa pesta itu penting bagi kita yang biasa. Dalam diri Maria, panen susulan itu sudah dimulai. Ia manusia seperti kita, dan ia sudah sampai. Tubuhnya tidak ditelan maut. Ia menjadi bulir kedua yang menguning sesudah Sang Sulung, tanda bahwa sawah ini sungguh akan dituai.
Wahyu menaruh gambar terakhir. Perempuan yang melahirkan di depan naga tidak ditelan, sebab telah disediakan tempat baginya. Selalu ada tempat yang disediakan bagi mereka yang bertahan.
Gambar panen ini menuntut sesuatu dari kita hari ini. Bulir yang sudah menguning tidak dituai dengan sendirinya; ia harus dijaga sampai musimnya, dilindungi dari hama dan dari tangan yang mau memetiknya sebelum waktunya. Begitu juga iman kita. Menjadi bagian dari panen susulan bukan berarti duduk diam menunggu. Ada ketekunan yang harus dijalani, ada kesetiaan sehari-hari yang membuat kita tetap berdiri di ladang ketika Sang Penuai datang. Petrus, yang dulu takut pada maut, akhirnya berani mati bagi Kristus, karena ia sudah percaya bahwa maut hanya musuh kedua dari belakang.
Maka pesta hari ini bukan ajakan untuk melamun tentang surga yang jauh, melainkan untuk hidup hari ini dengan wajah yang menghadap ke arah kebangkitan. Setiap kebaikan kecil yang kita tabur, setiap salib kecil yang kita pikul dengan setia, adalah bulir yang sedang menguning menuju panen besar.
Kalau maut hanya musuh yang terakhir, dan bukan yang menang, bagaimana seharusnya kita memandang kematian orang-orang yang kita kasihi, dan kelak kematian kita sendiri?
Tuhan, Engkau Sang Sulung yang telah bangkit. Ketika maut menakutiku, ingatkan aku bahwa ia hanya musuh yang terakhir, dan Engkau sudah mengalahkannya. Amin.