‹ Semua renungan

Senin, 19 Agustus 2030

Berkabung dengan Diam

Ada duka yang berteriak, dan ada duka yang justru diam. Kita biasa menganggap tangisan keras sebagai tanda cinta yang besar. Tetapi siapa yang pernah kehilangan orang paling dekat tahu, kadang kehilangan yang terdalam malah membisu. Tidak ada air mata yang cukup.

Yehezkiel diminta melakukan sesuatu yang nyaris tak masuk akal. Istrinya, 'yang sangat kaucintai,' akan diambil. Dan Tuhan menyuruhnya tidak meratap di depan umum, tetap memakai destar dan kasut seperti hari biasa. Pada pagi ia berbicara kepada bangsa itu, pada malamnya istrinya mati, dan pada pagi berikutnya ia melakukan persis seperti diperintahkan.

Ini bukan Tuhan yang kejam melarang orang bersedih. Ini nabi yang menjadikan seluruh hidupnya, bahkan dukanya, sebuah pesan bagi umat. Ada orang yang dipanggil menanggung salib begitu dekat, sampai hidup pribadinya sendiri menjadi khotbah.

Di seberang bacaan itu, Injil menampilkan orang muda kaya yang tidak sanggup melepaskan hartanya. Yehezkiel melepaskan istri yang dicintainya demi ketaatan; pemuda itu tidak bisa melepaskan barang demi Tuhan. Dua ukuran kasih yang berbeda jauh.

Kita tidak diminta menjadi Yehezkiel. Tetapi kita diajak bertanya: bila Tuhan meminta yang berat, apakah cinta kita cukup dalam untuk taat?

Tuhan, dalam duka yang paling sunyi sekalipun, jagai kepercayaanku pada-Mu. Ajari aku menyerahkan bahkan yang paling kucintai ke tangan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →