‹ Semua renungan

Sabtu, 17 Agustus 2030

Merdeka yang Tak Selesai di Gerbang

Pagi ini bendera naik di halaman-halaman, di sekolah, di kantor kecamatan, di gang-gang kampung. Tujuh belas Agustus. Delapan puluh lima tahun sejak dua orang membacakan teks singkat di Jakarta dan sebuah bangsa berdiri sebagai bangsa merdeka. Kita bersyukur untuk itu. Kemerdekaan sebuah bangsa adalah rahmat yang mahal, ditebus dengan darah banyak orang.

Tetapi ada satu jenis penjajahan yang tidak selesai oleh proklamasi mana pun. Penjajahan yang masuk lewat pintu hati, bukan lewat pelabuhan. Injil hari ini menunjukkannya lewat seorang muda yang kaya.

Ia datang berlari, penuh semangat, bertanya soal hidup kekal. Ia sudah menjalankan semua perintah sejak muda. Yesus memandangnya dengan kasih dan menawarkan satu langkah terakhir, 'Juallah segala milikmu, berikan kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku.' Dan pemuda itu, yang tadi berlari mendekat, kini pergi dengan sedih. Sebab banyak hartanya.

Perhatikan siapa yang sebenarnya memegang siapa. Kita mengira kita memiliki harta. Sering justru harta yang memiliki kita. Pemuda itu tidak bebas melangkah, karena hartanya sudah lebih dulu menjajah kakinya. Ia punya segalanya, kecuali kemerdekaan untuk melepaskannya.

Inilah kemerdekaan yang tidak diurus oleh sidang mana pun: kemerdekaan batin. Kemampuan berkata tidak kepada barang, kepada gengsi, kepada rasa aman yang palsu. Sebuah bangsa bisa merdeka di peta dunia sementara warganya diam-diam dijajah oleh keinginan yang tak habis-habis. Merdeka dari penjajah lama, tetapi terjajah oleh cicilan, oleh pamer, oleh rasa tidak pernah cukup.

Bacaan pertama hari ini keras dan aneh. Yehezkiel kehilangan istrinya yang sangat dicintainya, dan Tuhan menyuruhnya tidak meratap secara terbuka, sebagai tanda bagi umat. Ada saat ketika seseorang dipanggil melepaskan bahkan yang paling dicintainya, demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Para pahlawan bangsa dulu mengerti bahasa ini. Mereka melepaskan nyawa, rumah, dan masa muda, supaya orang lain kelak bisa berdiri tegak.

Maka merdeka sejati selalu punya wajah kesediaan melepas. Yang tidak bisa melepaskan apa-apa sebenarnya belum benar-benar bebas. Ia hanya tampak berdiri tegak, padahal terikat pada barang-barang yang menuntunnya.

Di hari kemerdekaan ini, pantas kita bertanya bukan hanya apakah bangsa kita merdeka, melainkan apakah hati kita merdeka. Adakah satu hal yang menggenggam kita begitu erat sampai kita tidak bebas mengikut Tuhan?

Tuhan, kami bersyukur atas kemerdekaan bangsa ini. Merdekakan juga hati kami dari segala yang menjajahnya diam-diam, supaya kami bebas melangkah mengikut Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →