Minggu, 14 Juli 2030
Tas yang Sengaja Kosong
Perhatikanlah orang yang bersiap bepergian jauh. Tasnya penuh berjaga-jaga: baju cadangan, obat, bekal, uang di beberapa kantong. Semakin jauh perjalanan, semakin berat bawaan. Kita menyebutnya persiapan matang.
Hari ini Yesus membuat daftar persiapan yang terbalik. Ia mengutus kedua belas murid berdua-dua dan berpesan: jangan membawa apa-apa, kecuali tongkat. Roti pun jangan. Bekal pun jangan. Uang pun jangan. Boleh alas kaki, tetapi jangan dua baju. Kalau ada panitia perjalanan seperti ini sekarang, pesertanya bubar sebelum berangkat.
Minggu lalu kita mendengar Yesus ditolak di Nazaret, kampung-Nya sendiri. Menarik sekali: justru sesudah pengalaman ditolak itu Ia mengutus. Seolah Ia hendak berkata, penolakan bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk menyebar.
Mengapa tas harus kosong? Sebab tas yang penuh membuat orang bersandar pada isi tasnya. Tas yang kosong memaksa orang bersandar pada Allah dan pada kebaikan sesama. Murid yang kenyang oleh bekalnya sendiri tidak akan pernah tahu rasanya disambut, ditolong, dijamu. Kekosongan bekal adalah ruang bagi penyelenggaraan ilahi.
Mengapa pula berdua-dua? Sebab Injil bukan prestasi perorangan. Dua orang saling menjaga ketika lelah, saling meluruskan ketika keliru, dan menjadi saksi satu sama lain. Sejak awal, kabar gembira berjalan dengan kaki persaudaraan.
Amos dalam bacaan pertama memperlihatkan pola yang sama. Ketika diusir dari Betel, ia menjawab jujur: aku ini bukan nabi dan tidak termasuk golongan nabi; aku peternak dan pemungut buah ara hutan. Tuhan mengambilnya dari belakang kawanan domba. Modal Amos bukan ijazah kenabian, melainkan pengutusan.
Surat Efesus membuka rahasia di balik semuanya: kita telah dipilih di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, dan dimeteraikan dengan Roh Kudus. Kalau pemilihan-Nya sedalam itu, apa lagi yang perlu dicemaskan soal bekal?
Kita semua sedang menjalani pengutusan masing-masing: keluarga, pekerjaan, lingkungan. Pertanyaannya bukan apakah tas kita cukup penuh, melainkan apakah hati kita cukup percaya. Barangkali minggu ini Tuhan mengajak kita menurunkan satu dua beban: kecemasan yang berlebih, rencana cadangan yang menumpuk, kebutuhan untuk selalu merasa aman.
Berangkatlah lebih ringan. Yang mengutus jauh lebih setia daripada apa pun yang kita bawa.
Tuhan Yesus, Engkau mengutus aku dengan tas yang kosong supaya hatiku penuh dengan Engkau. Berilah aku teman seperjalanan, dan jadikanlah aku pembawa damai-Mu. Amin.