‹ Semua renungan

Minggu, 7 Juli 2030

Anak Tukang Kayu

Ada pengalaman yang dikenal hampir semua perantau: pulang kampung. Bertahun-tahun merantau, membawa ilmu dan pengalaman, lalu duduk di acara keluarga dan tetap saja dipanggil dengan nama kecil. Mau bicara serius, orang tersenyum: dulu dia ingusan di sini. Di kampung sendiri, orang sulit dilihat sebagai orang baru.

Minggu lalu kita mendengar iman yang berani: Yairus bersujud, perempuan sakit menjamah jubah, anak kecil dibangkitkan. Hari ini pemandangannya berbalik. Yesus pulang ke Nazaret, mengajar di rumah ibadat, dan orang-orang takjub sebentar lalu tersandung: "Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?" Mereka merasa sudah tahu segalanya tentang Dia. Dan rasa sudah tahu itulah yang menutup pintu. Markus mencatat kalimat yang menggetarkan: Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana. Bukan karena kuasa-Nya berkurang, melainkan karena tidak ada tangan terbuka yang menerimanya.

Yehezkiel dalam bacaan pertama diutus kepada bangsa yang keras kepala, dengan pesan yang membebaskan: baik mereka mendengarkan atau tidak, katakanlah firman itu. Ukuran seorang utusan bukan tepuk tangan, melainkan kesetiaan. Yesus pun begitu. Ditolak di kampung sendiri, Ia tidak berhenti. Ia berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Lalu Paulus menyempurnakan pelajaran ini dari sisi yang paling pribadi. Ia menyebut duri dalam dagingnya, sesuatu yang menyakitkan dan tidak kunjung diangkat meski sudah tiga kali ia mohon. Jawaban Tuhan hanya satu kalimat: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Kuasa Allah rupanya tidak alergi pada kelemahan. Ia justru betah tinggal di sana.

Ketiga bacaan ini bertemu pada satu titik: Allah suka bekerja lewat yang biasa dan yang lemah. Nabi yang ditolak, rasul yang berduri, tukang kayu dari kampung kecil. Masalahnya, kita sering menuntut Tuhan tampil hebat dulu baru mau percaya. Padahal bisa jadi Ia sedang menyapa lewat orang yang paling kita kenal: pasangan yang mengingatkan, anak yang bertanya polos, tetangga yang menegur. Karena terlalu akrab, sapaan itu kita anggap angin lalu.

Pekan ini, cobalah satu latihan kecil: dengarkan orang serumah seolah baru pertama kali mendengarnya. Siapa tahu, lewat suara yang paling biasa itu, Tuhan sedang membuat mukjizat yang selama ini gagal terjadi karena kita merasa sudah tahu.

Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering menolak-Mu karena Engkau datang lewat wajah yang terlalu kukenal. Berilah aku hati yang selalu baru, dan cukupkanlah rahmat-Mu dalam kelemahanku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →