Senin, 8 Juli 2030
Jamahan dari Belakang
Pasar pagi adalah tempat paling banyak sentuhan. Bahu bersenggolan, tangan beradu saat memilih sayur, dan tak seorang pun saling memperhatikan. Sentuhan di keramaian biasanya tidak berarti apa-apa.
Tetapi Injil hari ini bercerita tentang satu jamahan yang berbeda. Seorang perempuan, dua belas tahun menderita pendarahan, menyusup dari belakang dan menjamah jumbai jubah Yesus. Ia tidak berani meminta. Ia hanya berkata dalam hati: asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.
Dan Yesus berpaling. Di tengah ratusan senggolan, Ia mengenali satu sentuhan iman. "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Perempuan yang bertahun-tahun bersembunyi itu dipanggil anak.
Hosea hari ini memakai bahasa yang lebih mesra lagi. Tuhan ingin dipanggil bukan sebagai majikan, melainkan sebagai suami. Ia merindukan relasi, bukan sekadar urusan.
Banyak doa kita mirip jamahan dari belakang: malu-malu, setengah sembunyi, tidak yakin pantas didengar. Kabar baiknya, Tuhan selalu berpaling. Tidak ada sentuhan iman yang luput dari-Nya.
Tuhan Yesus, kujamah ujung jubah-Mu dengan sisa keberanianku. Berpalinglah, dan sebutlah aku anak-Mu. Amin.