Jumat, 28 Juni 2030
Cahaya Mataku
Ada satu seruan yang keluar dari mulut seorang ayah tua yang baru saja bisa melihat lagi. Tobit, yang bertahun-tahun buta, disembuhkan oleh anaknya dengan cara yang aneh, empedu ikan yang disapukan ke matanya. Ketika bintik-bintik putih itu terkelupas dan cahaya masuk kembali, ia memeluk anaknya sambil menangis dan berseru, 'Aku melihat engkau, anakku, cahaya mataku!'
Cahaya mataku. Ungkapan seorang yang mengasihi. Bukan matahari yang pertama ingin ia lihat setelah sekian lama gelap, melainkan wajah anaknya. Kasih selalu ingin memandang wajah yang dikasihinya.
Hari ini kita merayakan Hati Yesus yang Mahakudus. Sebuah hari raya tentang hati, tentang kasih Allah yang bukan sekadar gagasan, melainkan denyut yang nyata. Kita menyembah bukan Allah yang berhitung dingin, melainkan Allah yang berhati, yang tergerak oleh belas kasihan, yang matanya memandang kita seperti Tobit memandang anaknya.
Sering kita membayangkan Allah sebagai hakim yang menghitung kesalahan dengan cermat, mata yang mencari cela. Hari raya ini membalik gambar itu. Hati Yesus adalah hati yang tersayat justru karena mengasihi terlalu dalam. Lambung-Nya tertusuk di salib, dan dari situ mengalir darah dan air, tanda kasih yang dicurahkan sampai habis.
Kisah Tobit menolong kita memahami kasih semacam ini. Penyembuhan matanya tidak datang lewat cara yang megah, melainkan lewat empedu ikan, sesuatu yang sederhana bahkan menjijikkan. Kasih Allah sering bekerja begitu, lewat hal-hal kecil dan tak terduga, asal hati kita terbuka menerimanya. Kasih memang kerap datang justru lewat yang pahit, seperti empedu yang menyembuhkan.
Dan perhatikan, yang buta bukan hanya mata Tobit. Kita pun sering buta terhadap kasih yang sebenarnya sudah mengelilingi kita. Buta terhadap perhatian orang di rumah, buta terhadap tanda-tanda Tuhan yang halus, buta terhadap wajah orang yang membutuhkan kita. Hari raya Hati Yesus adalah empedu ikan yang ditawarkan ke mata kita, supaya kita melihat kembali betapa kita dikasihi.
Ketika bintik-bintik itu terkelupas, mungkin kita pun akan berseru seperti Tobit. Bukan kepada anak, melainkan kepada Tuhan, 'Aku melihat Engkau, cahaya mataku.'
Hari ini, terhadap kasih siapa kita sedang buta, padahal ia ada begitu dekat menunggu untuk kita pandang?
Yesus yang berhati lembut, sembuhkan mataku yang buta terhadap kasih-Mu. Buatlah aku memandang wajah-Mu dan wajah sesama dengan mata yang baru, dan berseru dengan syukur, Engkaulah cahaya mataku. Amin.