Sabtu, 29 Juni 2030
Dua Tiang, Satu Fondasi
Gereja menempatkan dua nama dalam satu hari raya, Petrus dan Paulus. Dan kalau kita perhatikan, sukar mencari dua orang yang lebih berbeda.
Petrus seorang nelayan, tidak berpendidikan tinggi, gampang meledak, cepat berjanji, dan pernah menyangkal Tuhannya tiga kali di depan api unggun. Paulus seorang terpelajar, tajam berdebat, dulu penganiaya jemaat yang menyeret orang Kristen ke penjara. Yang satu jatuh karena takut, yang lain jatuh karena terlalu yakin diri.
Namun Gereja menyebut keduanya tiang. Bukan karena mereka sempurna, melainkan karena keduanya diubah oleh rahmat. Petrus yang menyangkal dijadikan gembala. Paulus yang menganiaya dijadikan rasul bangsa-bangsa. Batu-batu yang retak justru dipakai membangun fondasi.
Ada hiburan besar di sini. Kalau Tuhan hanya memakai orang yang tanpa cacat, tak seorang pun dari kita layak dipakai. Tetapi Ia justru gemar memakai orang yang pernah gagal, asal mereka mau bangkit dan berbalik.
Dalam Injil, Yesus bertanya, 'Menurut kamu, siapakah Aku ini?' Petrus menjawab dengan tepat, 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.' Dan Yesus berkata, di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku. Menarik, batu karang yang dimaksud adalah Petrus yang sama, yang beberapa waktu kemudian akan menyangkal. Tuhan membangun di atas orang yang Ia tahu akan jatuh, karena Ia juga tahu orang itu akan bangkit.
Paulus, di ujung hidupnya, menulis kalimat yang tenang, 'Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah memelihara iman.' Ia tidak berkata aku telah menang atas semua orang. Ia hanya berkata, aku setia sampai habis. Dua orang dengan watak yang bertolak belakang, tetapi berujung pada kesetiaan yang sama.
Perbedaan mereka justru menjadi kabar baik bagi Gereja. Ada tempat bagi si berapi-api seperti Petrus, ada tempat bagi si pemikir seperti Paulus. Tuhan tidak menuntut kita menjadi seragam. Ia hanya meminta kita, dengan watak masing-masing, setia sampai selesai.
Barangkali itu sebabnya Gereja tidak memilih salah satu, melainkan merayakan keduanya dalam satu hari. Fondasi yang kokoh justru dibangun dari batu-batu yang berbeda bentuk, asal disatukan oleh Kristus yang sama.
Hari ini, kegagalan mana dalam diri kita yang kita kira membuat kita tak layak dipakai Tuhan, padahal justru di situ rahmat ingin bekerja?
Tuhan, Engkau menjadikan si penyangkal dan si penganiaya menjadi tiang Gereja-Mu. Pakailah juga aku, dengan segala retak dan watakku sendiri, dan jagalah aku setia sampai akhir. Amin.