‹ Semua renungan

Minggu, 30 Juni 2030

Dua Belas Tahun

Dua belas tahun. Angka itu muncul dua kali dalam Injil hari ini, dan bukan kebetulan. Seorang perempuan sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Dan seorang anak perempuan, yang sekarat lalu meninggal, berumur dua belas tahun. Yang satu sudah menderita persis selama umur yang lain.

Markus menyusun dua kisah ini seperti dua lingkaran yang saling memotong. Yesus sedang dalam perjalanan menuju rumah Yairus, kepala rumah ibadat, yang anaknya hampir mati. Di tengah jalan, di tengah kerumunan yang berdesakan, seorang perempuan menyentuh jubah-Nya dari belakang. Ia sudah menghabiskan segala miliknya untuk berobat, dan tak ada yang menyembuhkan. Dalam diam ia berkata, 'Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.'

Dan ia sembuh. Tetapi Yesus tidak membiarkannya pergi diam-diam. Ia berhenti, bertanya, mencari wajah orang yang menyentuh-Nya. Mengapa? Karena Ia tidak mau menyembuhkan penyakitnya saja lalu melewatkan pribadinya. Ia ingin memandang perempuan itu, memanggilnya 'anak-Ku', dan mengembalikan martabat yang bertahun hilang. Kesembuhan tanpa perjumpaan belum lengkap bagi Yesus.

Sementara itu datang kabar, anak Yairus sudah mati. 'Apa perlunya lagi menyusahkan Guru?' Tetapi Yesus berkata, 'Jangan takut, percaya saja.' Ia masuk, memegang tangan anak itu, dan berkata dalam bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah, 'Talita kum', hai anak, bangunlah. Dan anak itu bangkit.

Perhatikan, Yesus memegang tangan mayat. Menurut hukum, menyentuh orang mati membuat najis. Tetapi ketika Yesus yang menyentuh, bukan kematian yang menular kepada-Nya, melainkan kehidupan yang mengalir dari-Nya. Ia menyentuh maut, dan mautlah yang kalah.

Bacaan pertama menegaskannya, 'Allah tidak menciptakan maut, dan Ia tidak bergembira karena yang hidup musnah.' Maut bukan karya Allah. Ia justru datang untuk melawannya, dengan sentuhan tangan.

Dua belas tahun penderitaan, dan dua belas tahun kehidupan, keduanya disentuh pada hari yang sama. Kepada perempuan yang malu, Yesus memberi perjumpaan. Kepada keluarga yang berduka, Yesus memberi harapan. Dan kepada kita, Ia menawarkan tangan yang sama.

Hari ini, bagian mana dari diri kita yang sudah lama menderita atau merasa mati, yang menunggu untuk kita bawa mendekat cukup untuk menyentuh jubah-Nya?

Tuhan Yesus, Engkau menyentuh yang sakit dan yang mati, dan dari tangan-Mu mengalir kehidupan. Sentuhlah bagian diriku yang lama menderita, dan panggillah aku bangkit, seperti Engkau memanggil anak Yairus. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →