Kamis, 13 Juni 2030
Awan Sebesar Telapak Tangan
Kemarin api turun di Karmel. Hari ini kita menunggu air. Setelah bertahun kering, Elia berkata kepada Ahab bahwa hujan akan datang. Tetapi langit masih bersih. Tak ada tanda.
Maka Elia naik ke puncak, membungkuk sampai mukanya di antara lutut, dan berdoa. Ia menyuruh bujangnya menengok ke laut. 'Tidak ada apa-apa,' kata si bujang. Elia menyuruhnya lagi. Tidak ada apa-apa. Sekali lagi. Begitu sampai tujuh kali.
Pada ketujuh kalinya bujang itu berkata, 'Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.' Hanya sekepal. Nyaris tak berarti. Tetapi Elia langsung tahu, hujan lebat sedang datang.
Betapa sering pertolongan Tuhan bermula dari yang sangat kecil. Sebuah kabar baik yang tipis, sebuah pintu yang membuka sedikit, sebuah tanda samar. Kalau kita hanya menunggu mukjizat yang megah, kita bisa melewatkan awan kecil yang sebenarnya awal dari segalanya.
Dan perhatikan ketekunan itu. Tujuh kali menengok. Enam kali kosong. Berdoa sering seperti itu. Kita menengok, tak ada apa-apa, dan tergoda berhenti di tengokan keenam, tepat sebelum awan muncul.
Dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita membereskan perkara kecil sebelum membesar: berdamailah dulu dengan saudaramu sebelum mempersembahkan korban. Retak kecil, kalau dibiarkan, bisa jadi badai. Awan kecil kebaikan, kalau dirawat, bisa jadi hujan yang menyuburkan.
Hari ini, awan sebesar telapak tangan mana yang sedang kita remehkan karena terlalu kecil?
Tuhan, ajarilah aku menengok sampai ketujuh kali tanpa putus asa. Dan berilah aku mata untuk mengenali awan kecil-Mu sebagai awal hujan berkat. Amin.