‹ Semua renungan

Jumat, 14 Juni 2030

Bukan dalam Gempa

Elia sedang habis. Baru saja ia menang besar di Karmel, tetapi sekarang ia lari ketakutan, bersembunyi di gua, ingin mati. Justru sesudah kemenangan, jiwanya jatuh. Kita mengenal ritme ini. Setelah puncak, sering datang lembah.

Di gua itu Tuhan menyuruhnya berdiri di gunung. Lalu datang angin besar yang membelah batu. Tetapi Tuhan tidak ada dalam angin. Datang gempa. Tuhan tidak ada dalam gempa. Datang api. Tuhan tidak ada dalam api. Dan sesudah semua kegaduhan itu, terdengar bunyi angin sepoi-sepoi yang lembut. Di situlah Elia menyelubungi mukanya. Di situ Tuhan hadir.

Betapa kita mengira Tuhan pasti hadir dalam yang besar dan riuh. Gempa rohani, api perasaan, angin peristiwa luar biasa. Kita menunggu Tuhan dalam ledakan, dan melewatkan Dia dalam bisik.

Padahal Tuhan lebih sering datang dalam keheningan. Dalam suara hati yang tenang, dalam damai yang tiba-tiba turun, dalam bisikan lembut yang mudah tenggelam oleh keramaian kita sendiri.

Zaman ini penuh kebisingan. Kepala kita jarang sunyi. Kabar dan suara datang tak henti dari layar di tangan kita. Dan Tuhan, seperti dulu, masih memilih berbicara dengan angin sepoi. Bagaimana kita bisa mendengar bisik, kalau tidak pernah kita padamkan gaduhnya?

Hari ini, kapan terakhir kali kita sengaja diam, cukup lama, sampai bisa mendengar angin sepoi itu?

Tuhan, di tengah gaduhnya hidupku, ajarilah aku diam. Sunyikan hatiku sampai aku mendengar bisik-Mu yang lembut, yang selama ini kalah oleh keramaianku sendiri. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →