Sabtu, 15 Juni 2030
Jubah di Atas Bahu
Elisa sedang membajak. Bukan sedikit, dua belas pasang lembu, dan ia mengemudikan pasangan yang terakhir. Bayangkan tanah basah, keringat, debu, dari pagi. Pekerjaan biasa seorang petani.
Lalu Elia lewat. Tanpa banyak kata, ia hanya melemparkan jubahnya ke atas bahu Elisa, lalu berjalan terus. Sebuah isyarat sederhana, hampir tanpa upacara. Tetapi Elisa mengerti. Panggilan itu jatuh di tengah lumpur sawah, bukan di dalam rumah ibadat.
Tuhan memang sering memanggil orang justru ketika mereka sedang bekerja. Bukan saat merenung khusuk, melainkan saat tangan sedang kotor oleh tugas sehari-hari. Musa sedang menggembala. Petrus sedang menjala. Elisa sedang membajak.
Yang menarik, Elisa lalu menyembelih lembunya sendiri, memakai kayu bajaknya sebagai kayu api, dan membagikan dagingnya kepada orang-orang. Ia membakar jembatan ke belakang. Alat mata pencahariannya ia jadikan pesta perpisahan. Tidak ada rencana cadangan untuk kembali membajak kalau panggilan ini gagal.
Kita biasanya ingin mengikuti Tuhan sambil tetap memegang pegangan lama, berjaga-jaga. Satu tangan pada bajak, satu tangan pada jubah. Elisa memilih melepas.
Dalam Injil, Yesus meminta ketegasan yang mirip: hendaklah ya-mu ya, tidak-mu tidak. Jangan setengah-setengah. Iman yang jujur tidak menaruh syarat tersembunyi.
Hari ini, bajak apa yang masih kita pegang erat, jaga-jaga kalau panggilan Tuhan ternyata terlalu berat?
Tuhan, ketika jubah panggilan-Mu jatuh di bahuku, berilah aku keberanian Elisa untuk melepaskan pegangan lamaku. Amin.